Demi Menolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja
Aksi Fajar dan tiga kawannya menyita perhatian masyarakat. Saat melintas di Kabupaten Karawang, tak sedikit pengendara yang melihat bahkan merekam empat sepeda yang tinggi tersebut.
ARIE FIRMANSYAH– Karawang
Demi menolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja, empat buruh asal Jogjakarta nekat pergi ke Jakarta menggunakan sepeda. Selama perjalanan ratusan kilometer itu, mereka tak menggowes sepeda biasa, melainkan Pit Dhuwur atau sepeda jangkung dengan tinggi hampir dua meter.
Sudah empat hari empat malam, Fajar Setyo Nugroho, Johan Ferdian Juno, Pepe Hidayat dan Riko Lesmana menahan lelah dan pegal demi ikut aksi protes di Gedung DPR, Kamis (16/7) nanti.
Baca Juga:12 Tahun Disiksa dan Dilecehkan MajikanHar Ini, 45 Voter Kumpul
“Meskipun mengendarai sepeda ini lebih melelahkan, kita coba menarik simpati masyarakat. Sepeda ini kami rakit secara khusus ,” ujar Fajar Setyo, kepala rombongan saat ditemui di Jalan Jenderal Ahmad Yani Karawang, Senin (13/7).
Pantauan dilapangan, aksi Fajar dan tiga kawannya menyita perhatian masyarakat. Saat melintas di Kabupaten Karawang, tak sedikit pengendara yang melihat bahkan merekam empat sepeda yang tinggi tersebut.
Lanjut Fajar, memilih sepeda tinggi untuk aksi protes bukan tanpa alasan. Menurut dia, bersepeda tak harus melulu menggunakan sepeda pabrikan yang harganya kini sedang mahal. “Kita ingin buktikan bahwa sepeda tinggi rakitan juga bisa dipakai jarak jauh,” jelas Fajar.
Ia bercerita, sepeda tinggi dirakit menggunakan bahan-bahan bekas. Frame atau batangnya dibuat dari rongsokan bekas sepeda tua yang menumpuk di tukang rongsok. “Kita memanfaatkan bahan yang ada untuk mengurangi limbah juga,” imbuhnya.
Meski sebagian part sepeda terbuat dari barang bekas, menurut Fajar, sepeda tinggi tetap nyaman dipakai. “Setelah menggowes kurang lebih 500 kilometer, kita tak menemui kendala berarti. Bahkan tak pernah sekalipun ban sepeda kami bocor,” ungkapnya.
Bahkan, kata Fajar, masyarakat kerap mengapresiasi aksi gowes Jogja-Jakarta. Tak sedikit masyarakat yang memberi makan atau minum.
“Di setiap kota yang kami lintasi, banyak kawan-kawan serikat buruh yang berempati. Untuk makan atau tidur kami tak khawatir,” kata Fajar.