Gigit Jari! Ongkos Tanam Naik Berkali-kali Lipat

0 Komentar

Petani Susah, Siapa Peduli?Hingga September Pupuk Subsidi Masih Langka

KARAWANG– Bupati Karawang, Cellica Nurchadina beberaapa waktu lalu menyatakan telah meminta sudah meminta jatah tambahan pupuk subsidi di Bulan September ini. Namun, kenyataan di lapangan, keberadaan pupuk subsidi itu masih langka. Petani “mejerit”, ongkos tanam mereka naik berkali-kali lipat. Kelangkaan pupuk yang telah mendapat sorotan seluru anggota DPRD Jabar daridaerah pemilihan Karawang-Purwakarta ini, perlu sesegera mungkin dicarikan solusinya. Apalagi, lahan pesawahan di Karawang, saat ini, baru selesai melakukan proses tanam. Para petani memerlukan pupuk urea untuk proses penggemukan tanaman padinya. Terlebih bagi para petani yang usia tumbuhan padinya sudah menginjak satu hingga dua bulan. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Karawang, melalui Dinas Pertanian Kabupaten Karawang hanya meminta para petani untuk bersabar. Mengingat, proses pengajuan penambahan pupuk subsidi ke Kementrian Pertanian itu perlu proses dan waktu. Menyikapi itu, sejumlah petani di Desa Bayur Kidul, Kecamatan Cilamaya Kulon, mengaku tak mau tahu proses birokrasi itu. Mereka hanya ingin, pupuk urea bersubsidi segera turun. Agar tanaman padi yang kadung di tanam bisa tetap tumbuh subur.

Meskipun di sejumlah kios masih ada pupuk non-subsidi yang harganya tiga kali lipat lebih mahal. Petani tetap tak mau membeli. Pasalnya, mereka tak mau rugi. Jika pada masa panen nanti. Harga jual gabah tak maksimal lagi, seperti pada musim panen sebelumnya.

“Petani tak mau tahu alasan dan prosedur lainnya. Yang penting buat mereka saat ini, pupuk urea bersubsidi ada lagi,” ungkap Kepala Desa Bayur Kidul, Darsono, Sabtu, (19/9/2020) kemarin.

Baca Juga:Jurus Jitu Satgas StuntingMenang Telak

Di samping itu, Darsono mengaku banyak sekali dibanjiri keluhan dari para petani di desanya. Karenanya, ia bersama UPTD Pertanian setempat menggelar rapat khusus, membahas kelangkaan ini.

Hasilnya, para petani tetap tak mau membeli pupuk non subsidi. Yang harganya mencapai Rp. 600 ribu per kwintal. Perbedaan harganya memang sangat jauh, jika dibandingkan dengan pupuk subsidi yang hanya Rp. 180 ribuan per kwintal.

“Ini menjadi pertanyaan serius petani. Kenapa masih langka? Ini kan mengancam tanaman padi gagal tumbuh. Apa lagi, yang sudah lebih 10 hari tanam,” kata kepala desa yang baru menjabat itu.

0 Komentar