“Ada pupuk non subsidi. Tapi harganya tidak akan seimbang dengan hasil panen nanti. Urea ini mahal sekali,” imbuhnya.
Sementara di wilayah lain. Petani di Kecamatan Pedes terpaksa membeli pupuk non subsidi yang harganya selangit itu. Pasalnya, jika tak segera diberi pupuk. Tanaman padi tak bisa tumbuh dengan sempurna.
Petani asal Kecamatan Pedes, Engkus Kusnadi menuturkan, pihaknya terpaksa membeli pupuk non subsidi seharga Rp. 600 ribu per kwintal, demi tanaman padi yang sudah kadung di tanam sepekan lalu.
Baca Juga:Jurus Jitu Satgas StuntingMenang Telak
Kusnadi mengaku, karena menggunakan pupuk non subsidi itu. Biaya produksi naik hingga tiga kali lipat. Engkus pun berharap, pemerintah segera mencari solusi. Dari kelangkaan pupuk bersubsidi tersebut.
“Kemarin beli Rp. 600 ribu per kwintal. Kalau subsidi Rp. 180 ribuan. Biaya produksi jadi naik tiga kali lipat,” katanya.
Sebelumnya, Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana mengatakan, kelangkaan pupuk saat ini bukan hanya terjadi di Kabupaten Karawang. Akan tetapi, hampir di seluruh wilayah lumbung padi di Indonesia
Kata Cellica, pihaknya saat ini tengah berupaya untuk meminta tambahan kuota pupuk subsidi. Kepada Kementrian Pertanian Republik Indonesia.
“Kelangkaan pupuk ini bukan hanya di Karawang saja. Tapi hampir di semua wilayah lumbung padi. Saat ini Pemkab Karawang tengah berupaya untuk meminta tambahan kuota pupuk subsidi pada kementrian pertanian,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, Hanafi Chaniago meminta agar para petani bisa bersabar. Sebab surat permohonan sudah dilayangkan dengan nomor 521.33/4747/Distan. Surat usulan kouta tambahan Pupuk Subsidi tahun 2020 kepada Menteri Pertanian Republik Indonesia.
Dijelaskan Hanafi, berdasarkan e-RDKK tahun 2020 untuk kebutuhan pupuk urea di Kabupaten Karawang sebanyak 56.90 ton, dan sampai akhir bulan Agustus 2020 telah terealisasi penyaluran sebanyak 39.758 ton. Sedangkan, kouta yang dialokasikan hanya 38.890 ton.
Adapun kebutuhan pupuk Urea bulan September 2020 sampai Desember 2020 sebanyak 17.149 ton.
“Kebutuhan petani berdasarkan e-RDKK sebanyak 56 ribu ton Urea. Kuota yang ada hanya 38 ribu ton,” tegas Hanafi.
“Kalau 2 kali tanam total tanam 190 ribu ha dan dosis 200 kg cukup diangka 38 ribu ton. Namun kita sudah minta tambahan kuota pupuk bersubsidi. Sekarang masih menunggu,” pungkasnya. (wyd/mhs)