KARAWANG – Sepekan terakhir, cuaca buruk melanda Kecamatan Tempuran dan sekitarnya. Akibat tingginya curah hujan dan terjangan angin yang kencang. Membuat ratusan hektare lahan sawah siap panen rebah dan tergenang. Akibatnya, para petani di wilayah itu terancam merugi. Lantaran harga padi akan dihargai murah karena gabah yang basah. Menurut petani, harga gabah yang basah itu dihargai rendah. Hanya Rp. 3.300 per kilogramnya. Jauh dari besaran HPP yang tertuang dalam Permendagri no 24 tahun 2020, yaitu sebesar Rp. 4.200 per kilogram. Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Tempuran, Yadi menjelaskan, dari 14 desa yang ada di Kecamatan Tempuran. Empat diantaranya terdampak sawah rebah dan kebanjiran. Ke empat desa itu, diantaranya Desa Pegadungan, Pancakarya, Purwajaya, dan Sumberjaya. Dengan total luas diperkirakan mencapai 400 hektare. Ada pun, sambung Yadi, usia tanaman padi yang terendam air itu variatif berbeda. Kisaran 70-95 Hari Setelah Tanam (HTS). Dengan ketinggian air sekitar 50-60 centimeter. Pihaknya, sebut Yadi, sudah melakukan pendataan terhadap petani terdampak. Serta melaporkannya kepada Dinas Pertanian Kabupaten Karawang. “Yang rebah 400 hektare. Sudah harganya rendah, di hutang pula,” tandasnya kepada KBE, kamis (10/12/2020). Disisi lain, Ketua Ikatan Kepala Desa (IKD) Kecamatan Tempuran, Zaenal Romli menuturkan, mulanya, para petani memprediksi jika panen kali ini akan mulus-mulus saja. Pasalnya, waktu panen rata-rata disana hanya tinggal 7 harian. Namun, hujan lebat yang disertai angin ribut terjadi berturut turut hampir setiap hari di pekan ini. Membuat bulir padi menjadi basah, yang secara otomatis menurunkan kualitas dan harganya. “Kalau harganya rendah, kami berharap ada serapan harga dari Bulog. Tapi kalau gagal panen, kalau bisa harapan kami masuk asuransi,” pungkasnya. (wyd/rie)