KBEonline.id – Stunting adalah masalah pertumbuhan kronis akibat kekurangan gizi dalam waktu lama, yang ditandai dengan tinggi badan yang tidak sesuai dengan usia.
Kondisi ini diukur menggunakan indeks TB/U dengan standar Z-score di bawah -2 SD (Kemenkes, 2011).
Masalah stunting menjadi perhatian utama di seluruh dunia, dan Indonesia juga sangat memperhatikannya.
Baca Juga:Jangan Sampai Tertipu! Inilah Perbedaan antara Pertalite dan Pertamax yang Wajib Kamu KetahuiBuat Kamu yang Suka Streaming Film dan Drama, Apakah Kamu Mengenal Aplikasi LokLok?
Anak yang mengalami stunting akibat kekurangan gizi pada masa balita umumnya memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang lebih rendah dibandingkan anak-anak normal.
Kondisi ini dapat menyebabkan mereka mudah mengantuk, kurang antusias dalam belajar, dan kesulitan menyerap informasi, yang pada akhirnya dapat menurunkan prestasi akademik dan memberikan kesan bahwa anak tersebut kurang cerdas.
Dengan memahami akar masalah stunting, kita dapat menerapkan langkah-langkah sederhana sebagai bagian dari upaya menurunkan angka stunting di Indonesia.
Pencegahan stunting dapat dimulai dengan mengonsumsi makanan yang bervariasi dan kaya akan nutrisi, terutama protein.
Kebutuhan protein harian yang disarankan adalah 15 persen dari total asupan kalori, atau 1,2 gram per kilogram berat badan untuk anak usia 6 hingga 12 bulan, dan 1,05 gram per kilogram berat badan untuk anak usia 1 hingga 3 tahun.
Sumber protein dapat diperoleh dari berbagai bahan makanan, baik nabati (seperti kacang-kacangan, umbi-umbian, biji-bijian, dan sayuran) maupun hewani (seperti daging sapi, ayam, ikan, telur, dan susu).
Oleh karena itu, pencegahan dan kesadaran akan stunting sangat penting.
Dengan memahami faktor penyebab stunting dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat berkontribusi dalam mengurangi stunting dan Masalah gizi di Indonesia.
(Vionisya Citra)