Sebagai Orang Sunda, Bagaimana Tradisi pada Saat Lebaran? Ini dia Jawabannya

Tradisi Lebaran Masyarakat Sunda
Ilustrasi Gambar Tradisi Lebaran Masyarakat Sunda (Tribunnews.com)
0 Komentar

KBEonline.id – Indonesia kaya akan berbagai tradisi yang melekat kuat di masyarakatnya. Salah satu momen spesial yang dirayakan adalah Lebaran Idul Fitri, di mana warga Tanah Sunda memiliki tradisi-tradisi menarik untuk menyambut hari bahagia ini.

Ini dia beberapa tradisi unik masyarakat tanah sunda pada saat lebaran.

1. Nganteuran

Nganteuran, yang berasal dari bahasa Sunda dan berarti “mengantarkan,” adalah tradisi di mana masyarakat mengantarkan makanan hasil masakan sendiri kepada tetangga terdekat.

Baca Juga:Mengenal Apa Itu Self Determination Theory, Apakah Ada Dampaknya?Tahukah Kamu tentang "Nyadran"? Tradisi Mengirim Gula dan Teh saat Lebaran, Hanya Ada di Tegal dan Brebes

Dahulu, makanan tersebut biasanya diantar dalam wadah bertingkat (rantang) dan terdiri dari berbagai hidangan seperti opor, rendang, ketupat, dan kentang balado. Tradisi ini umumnya dilakukan sehari atau dua hari sebelum Lebaran tiba.

2. Ngadulag

Ngadulag adalah tradisi yang dilakukan pada malam takbiran, di mana arti kata “ngadulag” adalah “memukul bedug.” Aktivitas ini biasanya mengiringi takbiran di masjid atau keliling kampung.

Tradisi memukul bedug sambil mengumandangkan takbir tidak hanya ada di Tanah Sunda, tetapi juga dilakukan di berbagai daerah lainnya. Setelah shalat Idul Fitri, kegiatan sungkeman juga dilaksanakan, yang merupakan tradisi menghormati orang tua dan kerabat. Sungkeman tidak hanya terjadi saat Lebaran, tetapi juga dalam acara-acara lain seperti pernikahan.

3. Nyekar

Nyekar berasal dari kata “sekar,” yang berarti bunga. Tradisi ini dikenal sebagai kegiatan menabur bunga saat berziarah ke makam keluarga atau sanak saudara. Nyekar diyakini muncul akibat akulturasi budaya Islam, Jawa, dan Hindu.

Secara umum, tradisi nyekar menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengenang kematian. Beberapa orang melaksanakan nyekar sebelum atau setelah hari Idul Fitri. Meskipun pelaksanaannya berbeda-beda, esensi dari nyekar tetap terjaga.

Tradisi Lebaran masyarakat Sunda sarat dengan nilai sosial dan kearifan lokal. Dari Nganteuran hingga Nyekar, setiap tradisi memiliki makna mendalam yang mempererat hubungan antarmanusia serta menjaga kelangsungan nilai-nilai budaya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melestarikan tradisi-tradisi ini agar warisan budaya Indonesia tetap terjaga dan dihargai.

(Vionisya Citra)

0 Komentar