Fenomena Coffee Shop dan Gaya Hidup Anak Muda: Antara Gengsi dan Realita  Ekonomi 

coffe shop dan gaya hidup anak muda
Coffee shop tumbuh pesat karena tingginya permintaan, termasuk di Cirebon sebagai pusat aktivitas wilayah Ciayumajakuning. Foto: Tripadvisor - kbeonline.id
0 Komentar

KBEonlne.id- Coffee shop tumbuh pesat karena tingginya permintaan, termasuk di Cirebon sebagai pusat aktivitas wilayah Ciayumajakuning. Banyak pendatang dari Kuningan, Indramayu, dan Majalengka menjadikan Cirebon sebagai tempat rekreasi, termasuk untuk nongkrong di kafe.

Pertumbuhan ini juga dipengaruhi budaya media sosial: foto, estetika, dan suasana kafe menjadi bagian dari identitas anak muda masa kini. Minum kopi tidak lagi sekadar aktivitas melepas penat seperti di warung dulu, tetapi menjadi bagian dari eksistensi sosial. Interior yang menarik, suasana nyaman, dan nilai estetik membuat kafe ramai. Rasa kopi tetap penting, tetapi gengsi dan visual tempat sering menjadi daya tarik utama. Pertanyaan pokoknya: apakah coffee shop ramah untuk semua kalangan atau hanya untuk kelompok tertentu?

Secara historis, kedai kopi pernah menjadi pusat diskusi dan ruang aspirasi kelas pekerja pada era Renaisans. Kini, konsepnya bergeser menjadi ruang yang menonjolkan kenyamanan dan gaya hidup. Menu kopi berkisar 15–30 ribu, ditambah makanan yang harganya bervariasi. Bagi pecinta kopi, biaya ini wajar. Namun bagi kelompok yang berhitung ketat—kaum “mendang-mending”—pengeluaran ini terasa berat. Jika seseorang rutin ke coffee shop tiga kali seminggu, menghabiskan sekitar 40 ribu per kunjungan, total sebulan bisa mencapai 480 ribu. Ini sekitar 18% dari UMR Cirebon (2,7 juta).

Baca Juga:Budaya Cirebon dan Peran Keraton: Sejarah, Politik, dan Tantangan Pelestarian di  Era Modern Duel Sengit Liga 2: PSPS Pekanbaru Tahan Bekasi City 0-0, Papan Tengah Makin Panas!

Dengan beban hidup lain seperti cicilan, tabungan, dan kebutuhan rumah tangga, gaya hidup ini sebenarnya tidak ideal—kecuali bagi mereka yang berpenghasilan cukup. Realitanya, coffee shop punya pasar yang tersegmentasi. Namun, banyak remaja usia 17–20 tahun tetap memaksakan diri mengikutinya demi pergaulan atau citra di media sosial. Mereka memakai uang orang tua—yang diperoleh dari kerja keras—demi terlihat “setara” dengan teman-teman.

Fenomena ini menunjukkan bahwa gengsi memegang peran besar dalam konsumsi kafe, bahkan pada kelompok yang sebenarnya tidak mampu. Di sisi lain, banyak coffee shop terus membuka diri karena gaya hidup ini menguntungkan. Kaum berpenghasilan tinggi bebas menikmati kopi mahal dan makanan estetik, sedangkan sebagian anak muda kelas menengah-bawah terjebak keinginan tampil keren.

0 Komentar