Gapapa, Nak. Ayah Cuma Bersihkan Sampah

Gapapa, Nak. Ayah Cuma Bersihkan Sampah
gambar ilustrasi. Foto: Freepik - kbeonline.id
0 Komentar

KBEONLINE.ID – dikarang oleh Angga Putra Mahardika Mahasiswa KPI UIN SSC

Chapter 2 – Karung Putih yang Kian Memerah

Kali ini aku tak mau lagi menerima jawaban “gapapa”.

Aku, Kadiman, keluar rumah saat Ayah sudah mendengkur pulas. Dengan hidung yang lumayan peka, aku mengikuti jejak bau yang menempel di bajunya. Bau besi, tanah basah, dan sesuatu yang manis-busuk.

Baca Juga:Gapapa, Nak. Ayah Cuma Bersihkan SampahVivo X300 Pro Resmi Meluncur di Indonesia: Kamera Zeiss 200MP yang Bikin Foto Pro, Saingi iPhone 17

Aku bertanya ke tetangga, ke pak RT, pak RW, camat, bupati, bahkan gubernur: “Apakah bapak-bapak kenal Jasir, ayah saya?” Semua menggeleng. “Peduli amat sama rakyat kecil.”

Dengan uang tebal yang selalu Ayah bawa pulang, akhirnya aku bisa bertemu Presiden. Aku bertanya, “Bapak kenal ayah saya, Jasir?” Beliau tersenyum ramah. “Tentu. Ayahmu petugas kebersihan teladan. Sudah mengabdi sejak masih bujangan. Orang baik.”

Aku mengangguk-angguk, tapi hatiku belum puas. Aku ingin melihat sendiri.

Malam berikutnya aku kembali mengintai. Truk sampah melintas, bau menyengat hampir membuatku muntah. Aku berlari mengejar, mencatat rute lewat hidung. Akhirnya aku sampai di sebuah bangunan abu-abu dengan plang besar: DILARANG MASUK.

Larangan bagi orang lain, perintah bagiku.

Aku memanjat tembok, naik ke atap, mencari celah. Ada lubang kecil di seng berkarat. Aku mengintip.

Di dalam, lampu neon pucat. Orang-orang berpakaian plastik putih. Karung-karung putih besar berubah merah karena rembesan. Bau semakin pekat hingga terasa di lidah.

Seorang pekerja membuka ikatan karung. Tangan menarik sesuatu yang berat.

Kepala sapi terkulai keluar. Lalu kepala yang lain. Lalu kepala yang lain lagi.

Dan di antara kepala-kepala sapi itu, terselip kepala manusia—mata terbuka lebar, bibir kebiruan, rambut panjang menempel basah di pipi.

Baca Juga:Surge WiFi: Internet Rakyat 1 Rupiah per Hari Resmi Meluncur, Saingan Starlink Makin PanasMutasi Wajib PPPK Paruh Waktu Mulai 2026: Ancaman atau Peluang Karier yang Tak Terduga?

Aku menutup mulut dengan tangan, menahan muntah. Air mata mengalir tanpa suara.

Di sudut ruangan, aku melihatnya. Ayah. Dengan pisau besar di tangan kanan, mencuci darah di keran, sambil bergumam lirih,

“Gapapa… Besok Ayah bawa uang lagi buat kamu sekolah… Gapapa…”

0 Komentar