Stroke Jadi Penyebab Kematian Tertinggi di Indonesia Primaya Hospital ajak masyarakat waspadai gejala dini

Ist
Ist
0 Komentar

Dengan mengenali dan mengendalikan faktor-faktor tersebut, risiko terjadinya stroke dapat diminimalkan secara signifikan.

FAST Cara Mudah Mengenali Tanda Stroke

Gejala awal stroke dapat meliputi mati rasa atau kelemahan mendadak pada wajah, lengan, atau kaki; kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan; gangguan penglihatan; kehilangan keseimbangan atau kesulitan berjalan; serta sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba tanpa penyebab jelas.

Untuk mempermudah mengenali gejala, gunakan istilah FAST, yaitu:● F (Face): Face drooping—satu sisi wajah tiba-tiba turun/terkulai atau mati rasa.● A (Arms): Arm weakness—sulit mengangkat satu lengan.● S (Speech): Speech difficulty—berbicara tidak jelas atau sulit dimengerti.● T (Time): Time to call emergency services—jika ada tanda-tanda di atas, segera hubungi rumah sakit.

Baca Juga:Mobil Antar Pengantin Haji Aep: Lima Tahun Mengantar Kebahagiaan Warga KarawangTabrakan Maut Lampu Merah Cikampek 2 Truk, 4 Minibus dan 7 Motor: 2 Tewas 5 Luka Parah

Namun, gejala tidak selalu muncul bersamaan. Kadang hanya salah satu seperti pusing mendadak, penglihatan buram, atau kelemahan ringan di satu sisi tubuh.

“Kunci utamanya adalah jangan menunggu gejala memburuk. Datanglah segera ke IGD rumah sakit dengan fasilitas stroke center,” tegas dr. Riski.

Mengapa Kecepatan Jadi Penentu Hidup StrokeStroke terjadi ketika aliran darah ke otak terhenti akibat sumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Tanpa oksigen, sel-sel otak mulai mati dalam hitungan menit.

Jika stroke iskemik terdeteksi dini, dokter dapat memberikan obat trombolitik untuk melarutkan bekuan darah atau melakukan trombektomi mekanik guna mengangkat sumbatan. Keduanya hanya efektif jika dilakukan dalam golden period.

Setelah Serangan: Rehabilitasi Tak Kalah PentingBagi pasien yang berhasil melewati fase akut, perjuangan belum selesai. Proses pemulihan sering kali panjang dan membutuhkan disiplin tinggi.

Rehabilitasi melibatkan fisioterapi, terapi okupasi, hingga terapi wicara. Tujuannya bukan sekadar memulihkan fungsi tubuh, tetapi juga mengembalikan kemandirian dan kepercayaan diri pasien.

“Banyak pasien yang depresi setelah stroke karena merasa tak berguna. Padahal, dengan terapi berkelanjutan dan dukungan keluarga, mereka bisa kembali produktif,” lanjut dr. Riski.

Baca Juga:BREAKING NEWS: Horor Kecelakaan di Lampu Merah Cikampek, Korban Bergelimpangan‎Fakta dan Data Tentang Buah Naga, Kamu Pasti Kaget!

Lawan Sebelum Datang: Deteksi Dini dan Gaya Hidup SehatFaktor risiko stroke sebenarnya bisa dikendalikan. Hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok adalah penyebab utama yang bisa dicegah dengan perubahan gaya hidup.

0 Komentar