Rokok Tak Pernah Bohong: Menebak Gaji dari Asap yang Mereka Isap

Menebak Gaji dari Asap Rokok
Menebak Gaji dari Asap Rokok
0 Komentar

‎‎KBEONLINE.ID – Rokok sering kali lebih jujur daripada pengakuan. Dari merek yang dibakar setiap hari, kondisi keuangan seseorang bisa terbaca dengan jelas, terutama di kalangan pekerja bergaji pas-pasan. Asapnya mungkin sama, tapi ceritanya jauh berbeda.

‎Di kasta gaji UMR, rokok yang dihisap biasanya sudah kelas “nama besar”. Marlboro Merah, Surya 16, atau Sampoerna A-Mild jadi teman setia. Setiap batang dibakar dengan penuh percaya diri, seolah gaji selalu cukup. Padahal jika dihitung, sebagian penghasilan habis hanya untuk asap. Di kasta ini, rokok bukan lagi kebutuhan, tapi alat menjaga gengsi. Perut bisa ditahan, tagihan bisa diundur, yang penting rokok di meja tidak turun kelas.

‎Turun ke kasta gaji tiga jutaan, rokok mulai mengalami “perselingkuhan”. Dari Djarum Super pindah ke Magnum, dari rokok utama ke versi yang lebih murah. Alasannya selalu sama, “rasanya hampir mirip”. Padahal ini fase kompromi. Keuangan mulai tertekan, tapi ego belum sepenuhnya rela turun kelas.

Baca Juga:Persib Bandung Gusur Persija, Ramon Tanque Borong Dua Gol ke Gawang BhayangkaraLip Mask Bikin Bibir Besar, Balm Cuma Lembab? Spill Perbedaan yang Bikin Shock!

‎Di kasta gaji dua jutaan, rokok tak lagi soal rasa. Merek-merek asing seperti Manchester atau London mulai jadi pilihan. Rasanya keras, aromanya aneh, tapi tetap dibeli. Yang penting ada nikotin, agar badan bisa terus dipaksa bekerja. Rokok berubah fungsi, dari kenikmatan menjadi kebutuhan semu.

‎Dan di kasta gaji serabutan, rokok sudah benar-benar kehilangan nama. Tingwe, rokok polos, tembakau kiloan dicampur apa saja yang penting murah atau rokok ilegal. Di titik ini, kesehatan tak lagi jadi pertimbangan. Yang penting pikiran tenang sebentar, meski risikonya panjang.

‎Saatnya Mengubah Prioritas

‎Masalah terbesar bukan pada rokoknya, tapi saat rokok didahulukan dibanding makan keluarga. Banyak kejadian di sekitar kita: rokok selalu ada, tapi istri dan anak makan mi instan hampir setiap hari. Padahal itu bukan makanan sehat untuk jangka panjang.

0 Komentar