Belanja Online Suka Bikin Duit Abis? Diprediksi 2026 Konsumen Berbalik ke Toko Offline

Belanja Offline Diprediksi Meningkat Tahun Depan
Belanja Offline Diprediksi Meningkat Tahun Depan
0 Komentar

KBEONLINE.ID – Menjelang tahun 2026, perilaku konsumen mulai menunjukkan pergeseran yang menarik. Setelah bertahun-tahun hidup dalam ekosistem serba digital—dari belanja, hiburan, hingga interaksi sosial—sebagian masyarakat justru kembali meramaikan toko fisik. Pusat perbelanjaan kembali padat, pasar tradisional hidup lagi, dan warung-warung kecil mulai merasakan denyut transaksi yang sempat meredup.

Fenomena ini bukan menandakan kemunduran teknologi digital, melainkan kejenuhan. Konsumen mulai lelah dengan banjir iklan, notifikasi tanpa henti, serta pengalaman belanja online yang terasa semakin mekanis dan tidak personal. Di titik ini, belanja offline menawarkan sesuatu yang hilang dari layar ponsel: pengalaman nyata, sentuhan manusia, dan rasa percaya.

Di sisi lain, pelaku usaha pun membaca arah angin. Brand besar hingga UMKM kembali membuka gerai fisik, pop-up store, hingga toko dengan konsep pengalaman. Toko tidak lagi hanya tempat membeli barang, melainkan ruang interaksi, edukasi produk, hingga membangun hubungan emosional dengan konsumen.

Baca Juga:Tips Liburan Tahun Baru Cashless yang bisa Dicoba dengan berbagai fitur DANASetelah OTT Bupati, KPK Beri Rapor Merah Proyek Pengadaan di Pemkab Bekasi

Di balik tren ini, ada sejumlah alasan kuat yang membuat konsumen secara sadar meningkatkan frekuensi belanja offline dibandingkan online.

  1. Promo Ongkir Menghilang, Harga Jadi Tak Lagi Masuk Akal

Pada awal maraknya marketplace, promo ongkir menjadi senjata utama untuk menarik konsumen. Namun belakangan, promo tersebut semakin terbatas. Tanpa gratis ongkir, harga total yang harus dibayar sering kali melonjak dan bahkan menyamai harga di toko offline.

Kondisi ini terasa janggal bagi konsumen, terutama saat membeli barang kebutuhan kecil seperti alat tulis, perlengkapan dapur, atau kebutuhan harian. Harga produknya memang murah, tetapi ongkos kirimnya justru lebih mahal. Pada titik ini, konsumen mulai bertanya: untuk apa menunggu lama dan membayar lebih, jika bisa langsung beli di toko terdekat?

2. Pengalaman Buruk yang Terulang Saat Belanja Online

Tak sedikit konsumen yang merasa pengalaman belanja online mereka lebih banyak diwarnai kekecewaan. Barang datang dalam kondisi cacat, kualitas tidak sesuai foto, atau spesifikasi berbeda dari deskripsi. Meski ada sistem komplain dan pengembalian, prosesnya sering kali memakan waktu dan energi.

0 Komentar