Dalam wawancara itu, Anno dan Yamazaki juga sempat ngulik isu besar lain: strategi internasional Studio Ghibli, krisis regenerasi kreator Jepang, penggunaan AI di produksi film, reformasi gaya kerja di industri kreatif, sampai soal pentingnya arsip karya. Semua dibahas dalam dan kelihatan banget mereka cemas soal masa depan industri hiburan Jepang.
Soal menargetkan penonton luar negeri memang sering jadi bahan debat di medsos. Perusahaan besar kayak KADOKAWA dan Crunchyroll terang-terangan membahas strategi supaya IP Jepang lebih gampang diterima global. Contohnya, Crunchyroll ikut produksi anime Solo Leveling, yang laris manis di pasar internasional.
Tapi buat sebagian fans, justru daya tarik anime Jepang ada di keberaniannya tampil beda dari cerita barat. Banyak yang ngerasa anime itu pelarian dari cerita global yang makin mirip-mirip. Jadi, setiap ada wacana penyesuaian buat pasar luar, reaksi penolakan langsung bermunculan—apalagi sekarang tekanan regulasi semakin ketat.
Baca Juga:Gals Can’t Be Kind To Otaku!? Tayang April 2026Arc Yotsuba Resmi Dimulai! Teaser & Visual Dirilis, Tayang 8 Mei
Tekanan itu nyata: ada pelarangan manga di Amerika, penjualan konten dewasa dihentikan setelah RightStuf diakuisisi Crunchyroll, regulasi baru kayak Online Safety Act dan Media Act di Inggris yang mulai berlaku penuh 2027, sampai aturan perusahaan kartu kredit internasional yang bikin hidup kreator Jepang makin susah.
Di tengah semua itu, sikap Hideaki Anno dan Takashi Yamazaki terasa makin relevan. Mereka percaya, menjaga identitas dan kejujuran artistik adalah fondasi utama karya Jepang—meski dunia makin terbuka dan streaming makin merajalela. (*)
