KBEOnline.id – Awal 2026 belum lama dimulai, tapi hype di komunitas gamer Indonesia sudah terasa. Banyak game baru antre rilis, sementara game lama pun masih jadi teman setia buat banyak orang. Nah, di tengah euforia game AAA dan judul-judul baru, tiba-tiba saja Theotown — game simulasi kota yang kelihatannya sederhana — jadi bahan obrolan di mana-mana. Di media sosial, forum, grup chat, nama Theotown sering berseliweran. Kok bisa, sih, game ini mendadak jadi primadona?
Awal Mula Theotown Ramai di Komunitas Gamer Indonesia
Theotown sendiri sebenarnya udah ada sejak 5 Juni 2019, bikinan developer Lobby Divinus. Bisa dimainkan di PC lewat Steam, Android, dan iOS — jadi lintas platform banget. Meski sudah beberapa tahun berlalu, justru sekarang popularitasnya meledak, terutama di Indonesia.
Salah satu alasan utamanya: Theotown nggak butuh spek dewa. PC kentang, HP Android murah, bahkan iPhone jadul masih bisa jalanin game ini tanpa ngadat. Jadi, siapa saja bisa main, nggak peduli perangkatnya kelas atas atau bawah.
Baca Juga:Sutradara SAO: Anime Jepang Siap Geser HollywoodAI Jadi Sorotan, ASUS Pamer Teknologi Anyar di CES 2026
Soal gameplay, Theotown nggak sekadar city building biasa. Pemain bisa bangun jalan, rumah, kawasan industri, layanan publik, sampai ngatur ekonomi kota dan kebahagiaan warganya. Grafisnya memang pixel art dan sederhana, tapi sistemnya cukup dalam. Buat yang suka city builder, game ini gampang bikin ketagihan.
Yang bikin Theotown makin spesial, ada fitur plugin. Jadi, pemain bisa pasang plugin bikinan komunitas — mulai dari bangunan lokal, fitur tambahan, sampai elemen visual unik. Di sinilah gamer Indonesia unjuk gigi.
Banyak kreator lokal bikin plugin khas Indonesia. Ada minimarket, SPBU, gedung pemerintahan, fasilitas umum, bahkan bangunan yang pasti familiar buat pemain lokal. Konten bernuansa Indonesia ini bikin Theotown terasa dekat dan relevan, jadi gampang viral dari satu komunitas ke komunitas lain.
Fenomena Roleplay yang Makin Kreatif dan Aneh
Satu tren lagi yang bikin Theotown makin ramai: roleplay. Banyak pemain Indonesia nggak cuma main, tapi juga berperan jadi wali kota, kepala daerah, bahkan presiden fiktif.
