KBEONLINE.ID – Memasuki 2026, banyak orang mulai bertekad memperbaiki kondisi keuangan. Targetnya beragam: ingin punya tabungan lebih tebal, mulai investasi, sampai hidup lebih tenang tanpa dikejar-kejar tagihan. Sayangnya, niat baik itu sering kandas karena kesalahan finansial yang sama terus diulang.
Tanpa disadari, ada pola-pola keliru dalam mengelola uang yang terlihat sepele, tapi dampaknya bisa panjang. Berikut beberapa kesalahan finansial yang sebaiknya tidak terulang lagi di 2026.
1. Tidak Punya Anggaran yang Jelas
Banyak orang merasa sudah “ngatur uang” hanya karena merasa tahu kapan harus belanja dan kapan harus hemat. Padahal, semua itu cuma berdasarkan perasaan, bukan perencanaan yang jelas.
Baca Juga:LBH Pangkal Perjuangan Ultimatum Pemkab Tutup THM Tak BerizinFood Genomics Mulai Dilirik, Pola Makan Kini Lebih Personal Berbasis DNA
Pengeluaran tidak pernah dicatat, pemasukan hanya lewat begitu saja. Akibatnya, di akhir bulan sering muncul pertanyaan klasik: uang habis ke mana? Kondisi ini bikin keuangan sulit dikendalikan karena tidak ada gambaran utuh tentang arus uang.
Tanpa anggaran, sulit menentukan prioritas. Mana kebutuhan, mana keinginan, dan mana yang sebenarnya bisa ditunda. Di 2026, kebiasaan ini perlu diubah. Anggaran sederhana saja sudah cukup, yang penting konsisten dan jujur pada diri sendiri.
2. Mengandalkan Satu Sumber Penghasilan
Selama gaji masuk rutin setiap bulan, hidup memang terasa aman. Namun, rasa aman itu sering kali semu. Begitu gaji telat, perusahaan bermasalah, atau muncul kebutuhan mendadak, kepanikan langsung datang.
Mengandalkan satu sumber penghasilan membuat keuangan sangat rentan. Tidak ada bantalan ketika terjadi hal tak terduga. Inilah alasan mengapa banyak orang langsung goyah saat kondisi ekonomi berubah.
Di 2026, memiliki sumber penghasilan tambahan bukan lagi soal gaya hidup, tapi soal bertahan. Tidak harus besar, yang penting ada alternatif. Dari usaha sampingan, freelance, hingga memanfaatkan keahlian yang dimiliki, semua bisa jadi penopang ketika pemasukan utama terganggu.
3. Investasi Karena FOMO
Investasi seharusnya jadi jalan untuk menumbuhkan aset, bukan sumber stres baru. Sayangnya, banyak orang terjun ke dunia investasi hanya karena ikut-ikutan tren. Melihat orang lain untung, langsung ikut beli tanpa benar-benar paham.
