Lokasi Sudah Diusulkan, Relokasi Sekolah Terdampak Tol Japek II di Setu Belum Jelas

Relokasi Sekolah di Cikarang
Relokasi sekolah-sekolah yang terdampak proyek pembangunan Tol Jakarta-Cikampek II (Japek II) di Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, hingga kini belum menemui kejelasan. --KBEonline.id--
0 Komentar

KBEONLINE.ID, BEKASI – Relokasi sekolah-sekolah yang terdampak proyek pembangunan Tol Jakarta-Cikampek II (Japek II) di Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, hingga kini belum menemui kejelasan. Padahal, sejumlah lokasi pengganti telah diusulkan dan disurvei, namun keputusan penetapan titik belum juga ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Kondisi tersebut membuat warga mempertanyakan lambannya proses penentuan lokasi sekolah baru, sementara aktivitas belajar mengajar masih berlangsung di tengah proyek konstruksi tol.

“Sekolah sudah diusulkan lokasinya, tapi sampai sekarang belum ada kepastian. Katanya masih dikaji, tapi sudah lama juga,” kata Ismi, warga sekaligus orang tua siswa SD Negeri Burangkeng 04.

Baca Juga:Jakmania Cikarang Prediksi Persija Tundukkan Persib 2-1Sampah Kiriman Kembali Teror Kabupaten Bekasi

SDN Burangkeng 04 menjadi satu dari empat sekolah yang terdampak proyek Tol Japek II. Tiga sekolah lainnya yakni SDN Burangkeng 03, SDN Ciledug 03, dan SMP Negeri 1 Setu. Namun, hanya pemindahan SMP Negeri 1 Setu yang telah ditindaklanjuti, sementara tiga sekolah dasar masih bertahan di lokasi lama.

Akibat belum tuntasnya relokasi sekolah dasar tersebut, pekerjaan proyek tol di tiga titik terpaksa dihentikan. Di sisi lain, para siswa masih harus menjalani kegiatan belajar mengajar di area yang berdekatan langsung dengan konstruksi.

Di lokasi SDN Burangkeng 04, jalur Tol Japek II bahkan melintas tepat di atas bangunan sekolah. Pilar-pilar raksasa penyangga badan jalan tol berdiri di sekitar gedung sekolah, dengan dua di antaranya bersebelahan langsung dengan ruang kelas dan lapangan upacara.

Kepala Desa Burangkeng, Nemin, mengatakan pemerintah desa telah menjalankan seluruh tahapan yang diminta, termasuk mengusulkan lokasi pengganti. Untuk setiap sekolah, pihak desa mengajukan tiga titik alternatif yang dinilai memenuhi syarat.

“Dari musyawarah desa, kami usulkan tiga titik untuk satu sekolah. Usulan itu dibuatkan berita acara dan disampaikan ke bupati. Setelah itu pemerintah daerah membentuk tim untuk mengecek dan mengkaji lokasi,” kata Nemin.

Menurutnya, tim dari Pemerintah Kabupaten Bekasi telah melakukan survei lapangan pada November lalu. Seluruh titik yang diusulkan telah ditinjau, namun hingga kini belum ada keputusan lanjutan.

“Tim sudah turun ke lapangan, sudah survei semua lokasi. Tapi sampai sekarang belum ada hasilnya. Warga terus bertanya, tapi kami juga belum dapat jawaban,” ujarnya.

0 Komentar