KBEonline.id- Kasus HIV di Kabupaten Karawang masih menunjukkan tren yang perlu menjadi perhatian serius. Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Karawang mencatat adanya perubahan kelompok usia dengan jumlah kasus tertinggi antara tahun 2024 dan 2025, yang mencerminkan dinamika penularan HIV di masyarakat.
Pada tahun 2024, kelompok usia 15–19 tahun menjadi penyumbang kasus tertinggi dengan jumlah mencapai 579 kasus. Namun, pada tahun 2025, kasus tertinggi bergeser ke kelompok usia 25–49 tahun dengan total 527 kasus. Pergeseran ini menunjukkan bahwa kelompok usia produktif memiliki risiko penularan HIV yang cukup tinggi.
Berdasarkan jenis kelamin, kasus HIV di Karawang masih didominasi oleh laki-laki. Pada tahun 2024 tercatat 600 kasus pada laki-laki dan 291 kasus pada perempuan. Sementara pada tahun 2025, jumlah kasus pada laki-laki mencapai 524 orang dan perempuan sebanyak 269 orang.
Baca Juga:Puncak Musim Hujan Segera Tiba, Kapolres Karawangan Ingatkan Warga Siaga Bencana Banjir dan LongsorSandisk Luncurkan Merek Produk SSD SANDISK Optimus, Rebranding pada WD_BLACK™ dan WD Blue® NVMe™ SSD
Secara kumulatif, jumlah kasus HIV dan AIDS di Karawang terus meningkat. Pada tahun 2024 ditemukan 886 kasus baru HIV dengan jumlah kumulatif mencapai 3.788 kasus. Pada tahun 2025, tercatat 793 kasus baru HIV sehingga total kumulatif meningkat menjadi 4.581 kasus.
Data cascade HIV Karawang per Desember 2025 menunjukkan estimasi orang dengan HIV (ODHIV) sebanyak 4.168 orang. Namun, jumlah ODHIV yang berhasil ditemukan mencapai 4.581 orang, melebihi angka estimasi yang ada.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.972 ODHIV telah masuk dalam layanan perawatan, dan 3.911 ODHIV tercatat pernah memulai terapi antiretroviral (ART). Namun demikian, ODHIV yang masih aktif menjalani ART tercatat sebanyak 2.198 orang.
Dalam data tersebut juga tercatat sejumlah tantangan, di antaranya ODHIV yang lost to follow up (LFU) lebih dari tiga bulan, ODHIV yang dirujuk keluar daerah sebanyak 397 orang, serta ODHIV yang meninggal dunia mencapai 370 orang.
Dilihat dari faktor risiko, kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) menjadi penyumbang kasus tertinggi dengan 250 kasus. Selanjutnya diikuti oleh populasi umum sebanyak 132 kasus, penderita TB 127 kasus, pasangan berisiko 68 kasus, serta ibu hamil sebanyak 60 kasus.
Kelompok lainnya yang turut tercatat dalam penemuan kasus HIV meliputi pelanggan pekerja seks sebanyak 40 kasus, calon pengantin 30 kasus, wanita pekerja seks (WPS) 29 kasus, pasangan ODHIV 24 kasus, anak dari ibu ODHIV 13 kasus, waria 11 kasus, pasien infeksi menular seksual (IMS) 8 kasus, dan penderita hepatitis 1 kasus.
