KBEONLINE.ID – Tak banyak yang tahu, di balik kelezatan Sate Maranggi yang kini menjadi ikon kuliner Purwakarta, tersimpan kisah sederhana yang berawal dari satu nama dan satu gerobak sate. Dari cerita di atas piring, lahirlah warisan rasa yang bertahan lintas generasi.
Sate Maranggi dipercaya mulai dikenal sekitar tahun 1960-an di wilayah Pleret, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Sejarahnya kerap dikaitkan dengan seorang penjual sate legendaris bernama Mak Anggi. Dari nama inilah, sebutan “Maranggi” perlahan muncul, mengalami perubahan pengucapan, hingga akhirnya melekat sebagai nama kuliner khas yang dikenal luas hingga hari ini.
Berbeda dengan kebanyakan sate di Indonesia yang disajikan dengan saus kacang, Sate Maranggi justru mengandalkan kekuatan bumbu marinasi. Daging sapi atau kambing direndam dalam racikan rempah khas sebelum dibakar, membuat rasa manis, gurih, dan aroma bumbunya menyatu sempurna hingga ke serat daging. Tanpa saus tambahan, cita rasa Sate Maranggi sudah “jadi” sejak pertama kali dibakar di atas bara api.
Baca Juga:Jangan Asal Minum Air Putih, Begini Tips Minum Air Putih agar Tubuh Tetap Sehat dan BugarCuaca Ekstrem Picu Banjir, Karawang Masuk Status Siaga 15 Kecamatan Terendam Banjir
Pada awalnya, Sate Maranggi merupakan makanan rakyat. Di Pleret dan sekitarnya, sate ini biasa disantap bersama nasi putih hangat atau ketan bakar. Dari warung sederhana hingga pedagang kaki lima, Sate Maranggi perlahan mencuri perhatian para penikmat kuliner.
Seiring waktu, popularitasnya terus meningkat. Dari kuliner lokal, Sate Maranggi kemudian menjelma menjadi identitas kuliner Purwakarta. Namanya pun menyebar ke berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan hingga Jakarta, tanpa kehilangan ciri khas rasa dan cara penyajiannya.
Kini, Sate Maranggi bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari sejarah dan budaya kuliner Purwakarta. Setiap tusuknya menyimpan cerita tentang tradisi, kesederhanaan, dan kekuatan rasa yang lahir dari kearifan lokal.
