KBEONLINE.ID, BEKASI – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bekasi tak hanya meninggalkan genangan air, tetapi juga cerita pilu ribuan warga yang terpaksa meninggalkan rumahnya. Sejak banjir merendam permukiman dan kawasan perumahan, ribuan kepala keluarga memilih mengungsi ke masjid, sekolah, hingga aula desa demi keselamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat, hingga Minggu (19/1/2026), sebanyak 5.344 jiwa dari 1.336 kepala keluarga (KK) terdampak langsung dan kini menempati berbagai lokasi pengungsian yang disiapkan pemerintah daerah.
Di sejumlah lokasi pengungsian, warga mengeluhkan banjir yang dinilai semakin sering terjadi dan berdampak luas. Sebagian warga menyebut banjir kali ini lebih cepat datang dibanding tahun-tahun sebelumnya, meski hujan tidak berlangsung seharian.
Baca Juga:Polres Karawang Patroli Kesehatan Bagi Warga Terdampak Banjir KarangligarHarga Perak Antam Hari Ini Sentuh Level Rp 57.900 Per Gram, Cek Harga Buybacknya!
“Kami sudah sering kebanjiran, tapi sekarang rasanya makin parah. Baru hujan beberapa jam, air langsung naik,” ujar Siti (42), warga Tambun Utara, saat ditemui di lokasi pengungsian.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih mengungsi lebih awal untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan, terutama bagi anak-anak dan orang tua.
Disisi lain, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi, mengatakan BPBD telah membuka 20 titik pengungsian yang tersebar di 10 desa pada 7 kecamatan. Pengungsian tersebut bersifat sementara dan memanfaatkan berbagai fasilitas umum yang tersedia di lingkungan warga.
“Pengungsian tersebar di Kecamatan Babelan, Tambun Utara, Cibitung, Sukawangi, Sukakarya, Cikarang Utara, dan Kedungwaringin. Fasilitas yang digunakan antara lain masjid, musala, aula kantor desa, sekolah, pondok pesantren, hingga rumah warga yang dinilai aman dari genangan,” ujar Dodi kepada Cikarang Ekspres.
Dodi menjelaskan, Kecamatan Cibitung menjadi wilayah dengan jumlah titik pengungsian terbanyak. Hal ini seiring dengan meluasnya genangan yang merendam permukiman padat penduduk dan kawasan perumahan. Ketinggian air di beberapa lokasi dilaporkan mencapai 30 hingga 70 sentimeter, bahkan lebih di titik-titik cekungan.
Sementara itu, di Kecamatan Babelan, warga terdampak mengungsi di Masjid Al Maghfur, Desa Babelan Kota. Sejumlah warga memilih bertahan di lantai dua rumah atau rumah kerabat yang tidak terdampak, namun tetap bersiaga apabila debit air kembali meningkat.
