Banjir Rendam SMPN 4 Cikarang Barat, Lebih dari Seribu Siswa Terpaksa Belajar Daring

Banjir memaksa SMPN 4 Cikarang Barat menghentikan pembelajaran tatap muka.
Banjir memaksa SMPN 4 Cikarang Barat menghentikan pembelajaran tatap muka.
0 Komentar

KBEONLINE.ID KARAWANG – Banjir yang melanda wilayah Kabupaten Bekasi memaksa SMP Negeri 4 Cikarang Barat menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar tatap muka.

Sejak Minggu (18/1/2026), seluruh siswa dialihkan ke sistem pembelajaran daring akibat lingkungan sekolah terendam air.

Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut selama dua hari berturut-turut menyebabkan genangan hampir di seluruh area sekolah.

Baca Juga:Banjir 1,5 Meter Rendam Permukiman Warga di Cikarang Utara, Ratusan Rumah TerdampakKDM Siapkan 'Sekolah Maung', Cetak Manusia Unggul Jawa Barat Mulai 2027

Ketinggian air bervariasi, mulai dari sekitar 30 sentimeter di area gerbang, hingga mencapai 60 sentimeter di sejumlah ruang kelas.

Kepala SMPN 4 Cikarang Barat, Deary Ratnaningsih, mengatakan banjir dipicu oleh curah hujan tinggi sejak Sabtu malam yang membuat debit air terus meningkat.

Kondisi ini diperparah oleh kontur sekolah yang lebih rendah dibandingkan lahan persawahan di sekitarnya, serta adanya empang di bagian belakang sekolah.

“Ketika hujan deras, air cepat masuk ke lingkungan sekolah karena drainase tidak mampu menampung aliran air,” ujar Deary, Senin (19/1/2026).

Sebanyak 29 ruang kelas dilaporkan terendam dengan ketinggian berbeda-beda.

Ruang kelas di area rendah tergenang air hingga setinggi lutut bahkan sepaha orang dewasa, sementara kelas di area yang lebih tinggi masih terendam setinggi mata kaki.

Selain itu, banjir juga merendam ruang guru, ruang tata usaha, serta ruang kepala sekolah.

Akibat banjir tersebut, sebanyak 1.032 siswa terdampak dan tidak dapat mengikuti pembelajaran secara langsung.

Baca Juga:Gus Yaqut Ungkap Tak Dilibatkan Saat Jokowi Sepakati Tambahan Kuota Haji 2024Truk Pengangkut Sampah Terguling di TPA Bantargebang, Tak Ada Korban Jiwa

Demi menjaga keselamatan siswa dan tenaga pendidik, pihak sekolah memutuskan menghentikan sementara kegiatan tatap muka.

“Kami mengikuti surat edaran dari dinas pendidikan dan menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk sementara waktu,” jelas Deary.

Selama masa pembelajaran daring, proses belajar dilakukan melalui berbagai platform digital, seperti Zoom, Google Form, Google Sheet, serta WhatsApp.

Para guru yang turut terdampak banjir juga diberlakukan sistem kerja fleksibel atau work from anywhere (WFA).

Pihak sekolah berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah terkait penanganan jangka panjang, agar aktivitas pendidikan tidak terus terganggu setiap musim hujan.

“Kami berharap ada solusi permanen, seperti peninggian bangunan atau akses ke lantai dua, sehingga kegiatan belajar tetap bisa berjalan meski banjir kembali terjadi,” pungkasnya.

0 Komentar