Sering Scroll Medsos dan TikTok? Kamu Bisa Tergolong Brain Rot, Begini Penjelasan Lengkap dan Bahayanya! 

Kebiasaan scrolling media sosial tanpa henti kini bukan sekadar soal buang waktu namun disebut brain rot
Kebiasaan scrolling media sosial tanpa henti kini bukan sekadar soal buang waktu namun disebut brain rot dan berbahaya.
0 Komentar

KBEONLINE.ID – Kebiasaan scrolling media sosial tanpa henti kini bukan sekadar soal buang waktu. Di balik video singkat yang tampak menghibur, tersembunyi ancaman serius bagi kesehatan otak yang dikenal dengan istilah brain rot. Fenomena ini semakin banyak disorot karena dampaknya yang perlahan namun nyata terhadap cara berpikir, fokus, dan produktivitas seseorang.

Brain rot merujuk pada kondisi menurunnya fokus, daya pikir, dan kesehatan mental akibat terlalu sering mengonsumsi konten instan yang minim nilai. Konten seperti video pendek tanpa makna, hiburan instan yang berulang, hingga kebiasaan doom scrolling selama berjam-jam membuat otak terbiasa menerima rangsangan cepat tanpa proses berpikir mendalam.

Dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Orang yang mengalami brain rot umumnya menjadi mudah bosan, sulit fokus, dan cepat lelah secara mental. Daya ingat ikut menurun, emosi menjadi tidak stabil, dan motivasi untuk belajar atau berpikir kritis perlahan menghilang. Tak jarang, produktivitas juga anjlok karena otak terus mencari kesenangan instan dibandingkan aktivitas yang membutuhkan usaha.

Baca Juga:Mau Kuliah Terhalang Biaya? Beasiswa KIP Kuliah Jadi Solusi NyataBusKita Trans Wibawa Mukti Kembali Mengaspal Pascabanjir di Bekasi 

Kondisi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang menyajikan konten viral tanpa henti. Video berdurasi 5 hingga 30 detik yang dikonsumsi secara nonstop membuat otak kehilangan kemampuan untuk bertahan dalam fokus jangka panjang. Akibatnya, membaca buku, belajar, bahkan berpikir mendalam terasa membosankan.

Penyebab utama brain rot bukan hanya lamanya waktu layar, tetapi jenis konten yang dikonsumsi setiap hari. Konten viral tanpa manfaat, scroll tanpa tujuan, serta kecanduan hiburan instan menjadi kombinasi yang perlahan “melemahkan” cara kerja otak.

Namun, kondisi ini masih bisa dicegah. Membatasi waktu layar, memilih konten yang edukatif, memperbanyak membaca buku, hingga meluangkan waktu untuk refleksi diri dan aktivitas fisik terbukti membantu menjaga kesehatan mental. Tidur yang cukup dan menjauh sejenak dari ponsel juga menjadi langkah sederhana namun efektif.

Pada akhirnya, apa yang kita konsumsi setiap hari akan membentuk cara otak kita berpikir. Terlalu sering memberi asupan “konten sampah” berisiko membuat otak kehilangan ketajamannya. Karena itu, penting untuk lebih sadar dan selektif dalam menggunakan media sosial agar teknologi tetap menjadi alat, bukan jebakan.

0 Komentar