Kisah Cinta Bung Karno dengan Noni Belanda yang Berujung Penolakan Pahit

Presiden pertama RI, Sukarno, dikenal memiliki kisah kehidupan pribadi yang penuh dinamika sejak masa muda.
Presiden pertama RI, Sukarno, dikenal memiliki kisah kehidupan pribadi yang penuh dinamika sejak masa muda.
0 Komentar

Saat itu, usia Sukarno baru 18 tahun. Dengan keberanian yang nekat, ia memutuskan melamar Mien Hessels.

Mengenakan pakaian terbaiknya, ia berlatih kata demi kata untuk menyampaikan niat suci tersebut.

Namun, keberanian itu berujung luka mendalam. Saat melamar, Sukarno dihadapkan langsung dengan ayah Mien Hessels, seorang pria Belanda bertubuh besar.

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Sukarno dimaki dan diusir.

Baca Juga:Profil Gayatri Rajapatni, Sosok Perempuan di Balik Kejayaan MajapahitMengenal Inggit Garnasih, Perempuan Tangguh di Balik Perjuangan Bung Karno

“Kamu?! Inlander kotor seperti kamu berani mendekati anakku?! Keluar kamu, binatang kotor!” bentak sang ayah.

Dengan hati hancur, Sukarno meninggalkan rumah itu. Rasa terhina dan sakit hati akibat peristiwa tersebut membekas sepanjang hidupnya.

Sekitar 23 tahun kemudian, pada tahun 1942, Sukarno telah menjelma menjadi tokoh besar pergerakan kemerdekaan.

Suatu sore di Jakarta, ia mendengar seorang perempuan memanggil namanya. Perempuan itu mengaku sebagai Mien Hessels.

Sukarno terkejut. Sosok yang dulu dipujanya bak bidadari kini telah berubah, jauh dari bayangan masa mudanya. Setelah berbasa-basi singkat, Sukarno pun berpamitan.

Dalam hatinya, Bung Karno bergumam bahwa caci maki ayah Mien Hessels di masa lalu justru merupakan rahmat yang tersembunyi, sebuah peristiwa pahit yang membentuk keteguhan jiwanya sebagai seorang pejuang bangsa.

0 Komentar