KBEONLINE.ID KARAWANG — Nama Bung Karno kerap dikaitkan dengan sejarah besar bangsa dan kisah hidupnya yang penuh dinamika.
Di antara beberapa perempuan yang pernah mendampinginya, sosok Inggit Garnasih menempati posisi istimewa dalam perjalanan perjuangan sang Proklamator.
Inggit bukan sekadar istri, melainkan teman seperjuangan di masa-masa paling sulit dalam hidup Sukarno muda.
Baca Juga:WNA Rusia Tertarik Kopi Minang Super Koto Tuo, Siap Dipasarkan ke MoskowBanjir Rendam Kabupaten Bekasi, Puluhan Ribu Warga Terdampak di 17 Kecamatan
Perempuan yang usianya terpaut sekitar 13 tahun lebih tua dari Bung Karno ini dikenal memiliki keteguhan hati dan pengorbanan luar biasa.
Penulis buku Sukarno: Sejarah yang Tercecer, Roso Daras, menyebut Inggit sebagai sosok perempuan yang fantastis dalam konteks pergerakan nasional.
“Dari sisi pergerakan, Inggit tidak hanya rela mengorbankan hartanya untuk perjuangan, tetapi juga berjualan jamu demi menopang gerakan. Bahkan, ia lihai menyelundupkan sandi-sandi intelijen melalui telur, Alquran, dan benda lainnya saat Bung Karno mendekam di penjara,” ujar Roso.
Kisah cinta Bung Karno dan Inggit bermula di Bandung, saat Sukarno masih menjadi anak kos dan Inggit adalah ibu kosnya.
Gejolak darah muda Sukarno berpadu dengan kesepian Inggit, perlahan menumbuhkan rasa yang kemudian berujung pada pernikahan.
Pada titik ini, Sukarno mengambil keputusan besar dengan ‘mengembalikan’ Utari, putri HOS Cokroaminoto, yang sebelumnya dinikahinya secara nikah gantung.
Di sisi lain, Inggit juga mengajukan cerai dari suaminya yang lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah.
Baca Juga:Warga Perumahan PNR Manfaatkan Banjir dengan Mancing Lele, Tetap Waspada Genangan7 Hal Penting yang Harus Disiapkan Sebelum Musim Penghujan dan Banjir Melanda
Pernikahan Sukarno dan Inggit berlangsung di era perjuangan, sarat romantika sekaligus tekanan.
Inggit harus menghadapi gosip, cemoohan, hingga pelecehan aparat kolonial Belanda karena statusnya sebagai istri ‘musuh nomor satu’ pemerintah Hindia Belanda.
“Ia tahan semua itu demi perjuangan,” kata Roso.
Tak hanya itu, Inggit setia mendampingi Bung Karno selama masa pengasingan di Ende dan Bengkulu.
Ia menjadi penopang utama bagi Sukarno baik saat semangatnya berkobar, ketika frustasi, maupun saat jiwanya diliputi kegelisahan akan kemerdekaan bangsa.
Namun, sejarah kemudian mencatat perubahan besar. Di Bengkulu, sekitar awal 1940-an, hati Bung Karno mulai tertambat pada Fatmawati, seorang gadis belia yang kelak menjadi Ibu Negara pertama Republik Indonesia.
