Pararaton mencatat pernikahan Bhre Wirabhumi dengan ‘Bhre Lasem Sang Alemu’ atau Bhre Lasem yang bertubuh gemuk.
Dengan demikian, Nagarawardhani dalam Nagarakretagama diyakini identik dengan Bhre Lasem Sang Alemu dalam Pararaton.
Sementara itu, Bhre Pajang menurunkan Surawardhani, penguasa Pawanuhan, serta Wikramawardhana atau Bhre Mataram.
Baca Juga:Mengenal Inggit Garnasih, Perempuan Tangguh di Balik Perjuangan Bung KarnoWNA Rusia Tertarik Kopi Minang Super Koto Tuo, Siap Dipasarkan ke Moskow
Wikramawardhana kemudian menikah dengan Kusumawardhani, yang dalam Pararaton dikenal sebagai Bhre Lasem Sang Juwita.
Dalam Nagarakretagama pupuh VI, digambarkan sosok Bhre Lasem dan permaisurinya sebagai pasangan ideal, laksana Asmara dan Dewi Pinggala, simbol keserasian dan keindahan.
Putri-putri Majapahit digambarkan muda, elok, cerdas, dan berwibawa, menjadi penopang kekuasaan para raja di Tanah Jawa.
Semua raja dan bangsawan dari berbagai wilayah Nusantara kala itu menghamba kepada pusat kekuasaan Majapahit di Wilwatikta, menandai puncak kejayaan kerajaan yang tak hanya dibangun oleh para lelaki, tetapi juga oleh perempuan-perempuan hebat di balik tahta.
