KBEONLINE.ID KARAWANG– Cita rasa khas kopi Minang kembali menarik perhatian dunia internasional.
Seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Rusia, Mr. Anatoli, mengaku terpikat dengan kopi Minang Super Koto Tuo, produk khas Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Bahkan, ia menyatakan kesiapannya untuk memasarkan kopi tersebut di negara asalnya.
Baca Juga:Banjir Rendam Kabupaten Bekasi, Puluhan Ribu Warga Terdampak di 17 KecamatanWarga Perumahan PNR Manfaatkan Banjir dengan Mancing Lele, Tetap Waspada Genangan
Pemilik Kopi Minang Super Koto Tuo, Hamdi, mengungkapkan ketertarikan tersebut muncul saat Mr. Anatoli berkunjung langsung ke Tanah Datar beberapa waktu lalu.
“Dia menyampaikan ketertarikannya karena rasa kopi Minang Super Koto Tuo yang khas. Bahkan, dia bersedia membantu memasarkan kopi ini di Rusia,” ujar Hamdi dalam keterangan resminya dikutip Selasa (20/1/2026).
Saat ini, Mr. Anatoli telah membawa sampel kopi bubuk Minang Super Koto Tuo ke Rusia untuk menjalani proses uji kelayakan dan perizinan produk sesuai standar negara setempat.
Jika kopi tersebut dinyatakan layak konsumsi, maka akan dipasarkan di Kota Moskow serta sejumlah kota besar lainnya di Rusia.
“Kurang lebih seperti uji SNI di Indonesia. Kalau sudah memenuhi kriteria, baru diurus izin ekspornya dan dipasarkan di dua kota di Rusia,” jelas Hamdi.
Hamdi menuturkan, Kopi Minang Super Koto Tuo merupakan usaha keluarga yang telah dirintis sejak 1975.
Produk ini diolah menjadi kopi bubuk murni kualitas A dan telah terdaftar resmi di Dinas Kesehatan RI dengan Nomor 210.13.05.01.070.
Baca Juga:7 Hal Penting yang Harus Disiapkan Sebelum Musim Penghujan dan Banjir MelandaBanjir Rendam SMPN 4 Cikarang Barat, Lebih dari Seribu Siswa Terpaksa Belajar Daring
Untuk jenisnya, Kopi Minang Super menggunakan kopi robusta yang sebagian besar dipasok dari pengepul asal Sungai Penuh, Kerinci, Provinsi Jambi.
Hal tersebut dilakukan karena pasokan kopi dari petani lokal Tanah Datar belum mampu memenuhi kebutuhan produksi.
“Kalau hanya mengandalkan petani lokal, jumlahnya belum mencukupi. Jadi kami datangkan dari Sungai Penuh menggunakan truk. Meski begitu, kami tetap menerima dan memberdayakan kopi dari petani lokal,” pungkasnya.
