KBEONLINE.ID – Siapa sangka, camilan sederhana yang kini identik dengan Kota Sumedang ternyata memiliki perjalanan sejarah panjang dan menarik. Tahu Sumedang, yang dikenal dengan teksturnya yang renyah di luar dan lembut di dalam, bukanlah sekadar makanan rakyat biasa. Di balik kelezatannya, tersimpan kisah perantauan, inovasi, hingga pengakuan dari tokoh penting pada masanya.
Berawal dari Perantau Tiongkok di Awal Abad ke-20
Sejarah Tahu Sumedang bermula sekitar tahun 1917. Kala itu, seorang imigran asal Tiongkok bernama Ong Kino menetap di wilayah Sumedang. Ong Kino memproduksi tahu sebagai mata pencaharian, dengan resep sederhana yang awalnya hanya dikenal di kalangan terbatas masyarakat setempat.
Inovasi Resep oleh Generasi Kedua
Perjalanan tahu ini tidak berhenti di Ong Kino. Anak beliau, Ong Boen Keng yang lebih dikenal dengan nama Bungkeng, kemudian melakukan inovasi penting. Ia mengembangkan teknik menggoreng tahu hingga menghasilkan tekstur berongga, renyah di bagian luar, namun tetap lembut saat digigit. Inovasi inilah yang menjadi ciri khas utama Tahu Sumedang hingga sekarang.
Disukai Bupati, Popularitas Langsung Melejit
Baca Juga:Plt Bupati Bekasi Tinjau Tanggul Citarum Jebol, Dorong Perbaikan Permanen Pakai Sheet Pile Lampaui Target Realisasi Investasi Karawang Tahun 2025 Capai Rp70,77 Triliun
Titik balik kepopuleran Tahu Sumedang terjadi pada tahun 1928. Saat itu, Bupati Sumedang, Pangeran Soeriaatmadja, mencicipi tahu buatan Ong Boen Keng. Sang bupati dikabarkan sangat menyukai rasa dan aroma tahu tersebut. Sejak momen itu, nama Tahu Sumedang mulai dikenal luas dan permintaannya terus meningkat.
Dari Jajanan Lokal Menjadi Identitas Daerah
Aroma harum dan cita rasa gurih membuat Tahu Sumedang cepat diterima berbagai kalangan. Dari sekadar makanan rumahan, tahu ini menjelma menjadi ikon kuliner daerah. Hingga kini, Tahu Sumedang bukan hanya camilan, tetapi juga identitas budaya dan kebanggaan masyarakat Sumedang.
Tetap Bertahan di Tengah Zaman
Lebih dari satu abad berlalu, Tahu Sumedang tetap eksis dan dicari. Warung-warung tahu masih ramai, bahkan menjadi tujuan wisata kuliner. Sebuah bukti bahwa resep sederhana, jika dipadukan dengan inovasi dan konsistensi rasa, mampu bertahan melintasi generasi.
