KBEONLINE.ID KARAWANG — Petualangan Liga Eropa pertama Nottingham Forest dalam hampir 30 tahun seharusnya menjadi momen bersejarah yang menyenangkan.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kekalahan tipis di kandang SC Braga meninggalkan nada kekhawatiran, setelah Forest tampil di bawah standar dan harus membayar mahal rangkaian kesalahan yang berpuncak pada gol bunuh diri kapten tim, Ryan Yates.
Sebanyak 2.100 pendukung Forest yang bertandang ke Portugal utara tak bisa menyembunyikan kekecewaan.
Baca Juga:Batal ke Persib, Maarten Paes Merapat ke Persija?Persija Masih Cari Tambahan Amunisi, Pemain Diaspora Jadi Prioritas
Sorakan bernada cemoohan beberapa kali terdengar mengarah ke Sean Dyche dan para pemainnya.
Situasi kian memburuk ketika di masa injury time Elliot Anderson, yang masuk sebagai bagian dari pergantian tiga pemain di babak kedua, diganjar kartu merah langsung akibat protes berlebihan.
Kekecewaan fans Forest semakin memuncak, terlebih statistik menunjukkan ironi pahit seperti Forest mencatat lima tembakan tepat sasaran, sementara Braga tak satu pun.
Namun satu kesalahan fatal sudah cukup untuk menentukan hasil.
Gol tunggal laga ini lahir dengan cara menyakitkan. Hanya 54 detik setelah Morgan Gibbs-White gagal mengeksekusi penalti yang ditepis kiper Braga, Lukas Hornicek Forest kebobolan.
Ryan Yates tanpa sengaja membelokkan umpan tarik Ricardo Horta ke gawang sendiri, melewati Matz Sels, dalam momen yang terasa tragis sekaligus ironis.
Dyche menyebut kejadian tersebut sebagai ‘satu menit kegilaan’, namun ia juga mengakui performa timnya secara keseluruhan memang jauh dari memuaskan.
Setelah hasil imbang yang cukup membanggakan melawan pemuncak klasemen Liga Inggris, Arsenal, akhir pekan lalu, kekalahan ini terasa seperti jatuh ke titik terendah.
Baca Juga:Liga Inggris Akhir Pekan Ini, 10 Hal Menarik yang Patut DisorotAston Villa Pertimbangkan Rekrut Ruben Loftus-Cheek karena Cedera Kamara
Forest kini hanya mencatat satu kemenangan dalam delapan pertandingan terakhir di semua kompetisi.
“Ya, tentu mereka frustrasi,” ujar Dyche dikutip dari The Guardian Jum’at, (23/1/2026).
“Mereka ingin kami tampil baik di kompetisi ini. Kami juga menginginkannya. Ini kompetisi besar yang sudah lama dinantikan klub. Saya paham kekecewaan mereka. Ekspektasinya tinggi musim ini. Tapi ini butuh waktu, kami tidak punya debu ajaib.”
Laga di stadion unik yang dibangun di bekas tambang batu itu sejatinya sudah terasa istimewa sejak awal, apalagi hujan deras mengguyur Braga berjam-jam sebelum kick-off.
