KBEONLINE.ID KARAWANG – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Karawang menyoroti besarnya jumlah pemuda di Karawang yang dinilai belum diiringi dengan arah kebijakan kepemudaan yang jelas dan terukur. Pemuda seharusnya menjadi aktor strategis pembangunan daerah, bukan sekadar angka statistik dalam laporan tahunan pemerintah, hal itu disampaikan Mahardhika Ketua Cabang PMII Karawang.
Dhika menilai, bonus demografi yang dimiliki Karawang merupakan potensi besar jika dikelola dengan serius. Namun hingga kini, besarnya populasi usia muda justru belum sepenuhnya dipersiapkan sebagai motor penggerak pembangunan.
“Pemuda Karawang hari ini terlalu sering diposisikan sebagai objek statistik, bukan subjek perubahan. Angkanya besar, tapi kekuatannya belum benar-benar dibangun,”kata Dhika.
Bonus Demografi Tanpa Arah Berpotensi Jadi Beban
Baca Juga:Validasi Tunjangan Guru 2026 Resmi Berubah, Cair Bulanan dan SKTP OtomatisGOCEKAN PART Dua Joey Pelupessy Buka Suara Gagal ke Persib, Influencer Ganindrabimo Malah Picu Spekulasi Baru
Secara kuantitatif, Karawang memiliki jumlah pemuda yang sangat besar seiring derasnya arus investasi dan industrialisasi. Namun pihaknya, mempertanyakan kesiapan pemuda lokal untuk mengambil peran strategis di tengah pertumbuhan tersebut.
“Pertanyaannya sederhana, apakah pemuda Karawang disiapkan menjadi pelaku utama pembangunan, atau justru hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri,” tegasnya.
Menurut Dhika, tanpa peta jalan atau blueprint kepemudaan yang jelas, bonus demografi berisiko berubah menjadi beban demografi. Peran pemuda akan berhenti pada jargon seremonial tanpa dampak nyata.
Program Kepemudaan Dinilai Tambal Sulam
PMII Karawang menilai program-program kepemudaan di Karawang selama ini masih bersifat formalitas dan belum berorientasi jangka panjang. Pelatihan dan kegiatan pemuda dinilai belum sepenuhnya menyentuh peningkatan kapasitas secara substansial.
“Banyak program hadir sekadar menggugurkan anggaran. Ramai saat foto bersama, tapi sepi ketika bicara arah dan tujuan,” kritik Dhika.
Padahal, investasi industri yang terus masuk membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, kritis, dan berdaya saing. Tanpa pembekalan yang serius, pemuda lokal berpotensi hanya mengisi posisi non-strategis.
