“Langkah normalisasi perlu dilakukan, ditambah penertiban bantaran sungai dan penghijauan agar bisa menahan air,” jelasnya.
Saan menegaskan, meskipun terdapat kebijakan efisiensi anggaran, perencanaan program normalisasi Sungai Citarum tetap harus disusun secara matang.
“Walau ada efisiensi, perencanaan normalisasi harus dibuat. Entah dilaksanakan kapan, tapi perhitungannya, baik badan sungai maupun bantaran, harus sudah ada,” kata Saan.
Baca Juga:Bukan Cuma Bawa Sembako, ASN Karawang Beli Pampers, Pembalut hingga Susu Formula untuk Para Korban BanjirAlfamart Perluas Program Sahabat Posyandu, Kolaborasi dengan WINGS Group Jangkau Ribuan Ibu dan Balita
Ke depan, DPR RI akan mendorong penanganan Citarum tidak hanya fokus pada pencemaran, tetapi juga normalisasi sungai agar tidak terus memicu banjir saat musim hujan.
Sementara itu, Kepala Desa Sukamakmur, Dede Sudrajat, menyebutkan banjir di wilayahnya berdampak pada 106 kepala keluarga dengan sekitar 400 jiwa. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 40 sentimeter hingga mencapai 3 meter di titik terdalam.
“Sekarang air naik lagi. Masih ada warga yang bertahan,” ujarnya.
Salah seorang warga Kampung Pasir Jengkong RT 01 RW 01, Janem (48) mengungsi bersama delapan keluarganya, dua di antaranya balita dan batita yang terdampak. Janem mengatakan banjir sudah terjadi sejak Jumat lalu dan merupakan banjir kedua dengan ketinggian lebih parah dari sebelumnya.
“Ini banjir yang kedua dan malah lebih tinggi. Saya mengungsi satu kampung, keluarga saya ada sembilan orang dari tiga KK,” tuturnya.
Janem mengaku kebutuhan makanan dan layanan kesehatan di pengungsian cukup terpenuhi. Namun, ia mengeluhkan kondisi anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan akibat cuaca dingin.
“Makanan alhamdulillah cukup, puskesmas juga ada. Tapi anak-anak banyak yang kedinginan, selimut kurang, minyak kayu putih dan pampers juga kurang. Pagi-pagi badannya panas,” keluhnya.
Baca Juga:Cerita Bupati Karawang Menjaga Daerahnya Sebagai Tulang Punggung Swasembada Pangan IndonesiaPerkuat Ekonomi Putih, MES Bersama Bappeda dan Kampus Kawal Karawang Bebas Riba
Diketahui, banjir di wilayah tersebut telah terjadi tiga kali dalam sebulan di awal tahun 2026, akibat luapan Sungai Citarum dan Sungai Cibeet.
