Penanganan Banjir di Kabupaten Bekasi Masih Tahap Identifikasi

Pemerintah Kabupaten Bekasi sedang identifikasi masalah banjir
Pemerintah Kabupaten Bekasi sedang identifikasi masalah banjir
0 Komentar

“Bikin tenda seadanya, yang penting bisa neduh,” ujarnya.

Kondisi di pengungsian darurat disebut sangat tidak nyaman. Selain dingin pada malam hari, nyamuk juga menjadi keluhan utama warga.

“Kalau malam dingin banget, nyamuk. Di kontrakan aja dinginnya kerasa,” katanya.

Menurut Siti, banjir bukan hanya disebabkan hujan lokal, melainkan air kiriman dari wilayah hulu. Ia menyebut meski saluran air telah dikeruk, banjir tetap terjadi karena berkurangnya daerah resapan akibat alih fungsi lahan.

Baca Juga:‎Pro Kontra 7 Pemain Diaspora Bermain di BRI Super League, Antara Kenaikan Level dan Tantangan RegenerasiFakta Persib Usai Menang Lawan PSBS Biak: Berguinho Pecah Telur, Teja Clean Sheet, Laga Kandang Tanpa Kalah

“Kalau hujan di sini aja nggak bakal banjir. Ini air kiriman. Sawah-sawah sudah jadi perumahan, serapan air sudah nggak ada,” jelasnya.

Warga menduga luapan berasal dari Kali Ujung Harapan atau Kali Pulo yang melintas di sekitar wilayah tersebut.

Dampak kesehatan mulai dirasakan warga, seperti gatal-gatal, kutu air, serta flu pada anak-anak akibat cuaca dingin dan lembap. “Anak-anak pilek, jadi sedia obat sendiri, parasetamol, jangan sampai meriang,” katanya.

Saat ini, warga sangat membutuhkan bantuan, terutama bahan makanan dan obat-obatan. Persediaan beras disebut semakin menipis, sehingga warga kerap hanya mengandalkan mi instan.

“Kadang sore makannya cuma mi. Nasi kadang nggak kebagian. Anak saya banyak,” tandasnya.

Banjir Surut, Penyakit Merebak; Penanganan Dinilai Masih Sebatas Wacana

Disisi lain, Banjir yang melanda Kabupaten Bekasi sedikitnya mulai berangsur surut. Namun, persoalan belum selesai. Warga di sejumlah wilayah kini dihantui ancaman penyakit akibat berhari-hari terpapar air banjir, sementara penanganan banjir dan dampaknya masih dinilai sebatas wacana dan identifikasi.

Di Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, ratusan warga yang bertahan di pengungsian maupun yang mulai membersihkan rumah mengeluhkan berbagai penyakit, terutama infeksi kulit dan demam. Kondisi ini terungkap saat relawan turun langsung memberikan layanan kesehatan gratis.

Baca Juga:‎Gaji Rp3 Juta? Jangan Salah Langkah: Ini Strategi Investasi Paling Masuk Akal untuk Bertahan dan Naik Kelas‎YUK JAGA KESEHATAN, Kebiasaan Sepele Ini Diam-diam Mengancam Kesehatan Ginjal

Ketua Relawan Gesit Bekasi, Abdul Latief, mengatakan antusiasme warga untuk berobat sangat tinggi dan menunjukkan kondisi kesehatan warga yang memburuk pascabanjir.

“Yang paling dibutuhkan warga saat ini adalah obat gatal dan obat demam. Bahkan tadi tim medis kami menemukan anak yang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan dengan bintik-bintik merah di sekujur badan. Kami langsung instruksikan evakuasi ke rumah sakit karena khawatir demam tinggi nanti malam,” ucap Abdul Latief di lokasi pengungsian, Masjid Al Muhajirin, Desa Sukamekar, Sukawangi.

0 Komentar