Di lokasi pengungsian, puluhan warga menyerbu tim medis dengan sekotak obat-obatan. Sebagian besar mereka yang adalah ibu-ibu dan anak-anak. Latief menyebut tingginya angka warga yang sakit membuat stok bantuan medis yang dibawa relawan habis tak bersisa.
“Obat-obatan sampai habis, bahkan stok standar seperti obat masuk angin pun sudah tidak ada. Kami sangat kekurangan obat-obatan, pakaian anak, dan pampers,” tambahnya.
Selain fokus pada pengobatan, lanjut Latief, pihaknha juga menyediakan layanan Posko Hangat. Layanan ini mendistribusikan lebih dari 700 porsi makanan siap saji, yang terdiri dari 400 porsi mi instan dan 300 porsi nasi bungkus. Tidak hanya kebutuhan fisik, aspek psikologis anak-anak korban banjir juga menjadi perhatian melalui program trauma healing.
Baca Juga:Pro Kontra 7 Pemain Diaspora Bermain di BRI Super League, Antara Kenaikan Level dan Tantangan RegenerasiFakta Persib Usai Menang Lawan PSBS Biak: Berguinho Pecah Telur, Teja Clean Sheet, Laga Kandang Tanpa Kalah
“Kami juga mendistribusikan sekitar 300 helai selimut. Untuk anak-anak, kami adakan trauma healing agar mereka tidak tertekan dengan kondisi bencana ini,” terang Latief.
Meski bantuan dari relawan dan pihak swasta terus mengalir, warga di Desa Sukamekar masih membutuhkan bantuan medis lanjutan dari pemerintah daerah. Tinan (36) mengungkap banjir terjadi sejak Minggu (18/1) atau sepekan yang lalu dan ia bersama warga lainnya mengungsi di Masjid Al Muhajirin, Desa Sukamekar. Ia menyebut banjir sempat surut pada Senin, namun pada Kamis (22/1) malam banjir mulai merangsek kembali ke rumahnya.
Sejak mengungsi di Masjid bersama suami dan anaknya, ia mencoba menerima keadaan. Selain itu, karena lokasi masjid yang berdekatan dengan rumahnya juga membuat ia bisa mengontrol rumahnya setiap saat, terlebih kini banjir sudah mulai surut. Ia berharap, pemerintah dapat memberikan keperluan obat-obatan.
“Yang dibutuhkan warga saat ini ya alat-alat kebersihan, obat-obat masih dibutuhkan karena dengan adanya banjir ini mulai gatal-gatal kena kutu tup air. Jadi kalau bisa memang sangat diperlukan dibutuhin obat-obatan,” pungkasnya. (Iky)
