KBEONLINE.ID — BRI Super League 2025/26 memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya, tujuh pemain diaspora yang telah dinaturalisasi PSSI sejak 2022 kini benar-benar bersaing di kompetisi domestik. Nama-nama seperti Thom Haye, Eliano Reijnders, Jordi Amat, Jens Raven, Rafael Struick, Shayne Pattynama, dan Dion Markxx tak lagi hanya identik dengan Timnas Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari wajah baru liga.
Kehadiran mereka disambut antusias, namun bersamaan dengan itu, diskusi panjang pun muncul. Apakah pemain diaspora ini menjadi berkah bagi liga, atau justru menghadirkan persoalan baru?
Ketika Level Liga Terangkat
Tak bisa dipungkiri, kualitas permainan langsung terasa berbeda. Pemain diaspora datang dengan pengalaman kompetisi Eropa, baik dari sisi tempo, kecerdasan membaca permainan, hingga kedisiplinan taktik.
Baca Juga:Fakta Persib Usai Menang Lawan PSBS Biak: Berguinho Pecah Telur, Teja Clean Sheet, Laga Kandang Tanpa KalahGaji Rp3 Juta? Jangan Salah Langkah: Ini Strategi Investasi Paling Masuk Akal untuk Bertahan dan Naik Kelas
Alur pertandingan menjadi lebih cepat, duel lebih intens, dan kesalahan kecil sering berujung hukuman. Tanpa disadari, pemain lokal yang berada di lapangan yang sama ikut “dipaksa naik level”. Mereka belajar bukan dari seminar atau teori, tetapi dari pertandingan nyata setiap pekan.
Di ruang ganti, efeknya pun terasa. Kebiasaan latihan, pola komunikasi, hingga cara menjaga kondisi fisik membawa standar baru. Liga Indonesia perlahan bergerak dari sekadar kompetisi fisik menjadi ajang adu kecerdasan bermain.
Magnet Baru bagi Liga
Dari sisi bisnis dan eksposur, kehadiran pemain diaspora memberi warna segar. Publik kini tak hanya menonton klub favorit, tetapi juga memantau pemain Timnas yang merumput di liga.
Dampaknya terlihat jelas: perhatian media meningkat, minat sponsor bertambah, dan citra Super League mulai naik kelas. Liga tidak lagi sekadar tontonan lokal, tetapi perlahan membangun identitas yang lebih kompetitif di kawasan.
Namun, Kekhawatiran Tak Bisa Diabaikan
Di balik euforia, ada kegelisahan yang wajar. Menit bermain pemain lokal, terutama yang muda, menjadi sorotan utama. Ketika klub mengincar hasil instan, pilihan sering jatuh kepada pemain yang sudah matang secara fisik dan mental.
