“Ke depan, penguatan kesiapan infrastruktur (khususnya dalam ketersediaan listrik dan akses air bersih), konektivitas, serta pengembangan talenta akan menjadi faktor kunci untuk memastikan Indonesia tetap kompetitif sebagai tujuan investasi data center di kawasan,” tambah Farazia Basarah.
Laporan Global Data Center Outlook 2026 dari JLL mencatat kapasitas data center global diperkirakan melonjak hampir dua kali lipat dari sekitar 103 gigawatt (GW) saat ini menjadi 200 GW pada 2030.
Pertumbuhan ini sebagian besar dipicu oleh AI, yang bebannya diproyeksikan mencakup sekitar 50% dari total kapasitas global pada akhir dekade, naik tajam dibandingkan sekitar 25% pada 2025.
Baca Juga:Jurus Cabul, Siswi SMP di Kutawaluya Korban Pencabulan Guru SilatLebih Dekat dengan Sosok Rahmat Hidayat Djati: Peraih Gelar Doktor Unpad yang Dedikasi untuk Rakyat Jabar
Dalam lima tahun ke depan, sektor data center global diperkirakan menyerap investasi hingga US$3 triliun.
Angka ini mencakup peningkatan nilai aset properti sekitar US$1,2 triliun serta pembiayaan utang baru mendekati US$870 miliar, menandai dimulainya supercycle investasi infrastruktur digital. Meski tumbuh agresif, JLL menilai fondasi sektor ini masih solid dan belum menunjukkan gejala gelembung di pasar properti. **
