TMA Sungai Citarum Terus Naik, Warga di Himbau Waspada

Tinggi Muka Air Sungai Citarum Naik
TMA Sungai Citarum Terus Naik, Warga di Himbau Waspada. (kbeonline.id)
0 Komentar

KARAWANG, KBEonline.id – Banjir kembali mengancam wilayah bantaran Sungai Citarum, khususnya di sekitar Karawang. Kondisi ini memicu kewaspadaan tinggi dari para petugas pintu air yang berjaga di lapangan.

Berdasarkan pantauan terakhir pada Kamis (29/1/2026) status Sungai Citarum pada 12.35 TMA (Tinggi Muka Air) telah mencapai level awas, setelah sehari sebelumnya terjadi dua kali banjir dengan puncak tertinggi pada 13.20 TMA.

Petugas Pintu Air Daerah Irigasi (DI) Jatiluhur yang bertugas di wilayah pengamatan Karawang, Ujang Purdaos, mengatakan bahwa selama banjir petugas harus bersiaga penuh di posko, baik siang maupun malam. Informasi kondisi air terus disampaikan secara berkala kepada pihak terkait dan masyarakat.

Baca Juga:Hujan Deras Picu Banjir Susulan, Pemkab Karawang Siaga PenuhBanjir Rendam 41 Desa di Bekasi, Sebanyak 37.879 Jiwa Terdampak,  6.027 Mengungsi

“Kalau pemberitahuan, kita koordinasikan dengan BPBD, aparat setempat, PJT, dan BBWS. Informasi ini sangat diperlukan, terutama oleh masyarakat yang tinggal di wilayah bantaran sungai,” ujar Ujang saat ditemui di Posko Pantai Kedung Gede, Sungai Citarum.

Menurutnya, tugas utama petugas pintu air adalah memantau debit dan kondisi aliran Sungai Citarum serta melaporkannya secara langsung berdasarkan pengamatan lapangan. Hingga kini, sebagian pemantauan masih dilakukan secara manual karena sistem telemetri mengalami gangguan.

“Sebenarnya sekarang sudah ada telemetri, tapi kalau ada kendala gangguan, kita kembali manual menggunakan fiskal. Kalau air lagi kecil saja baru pakai telemetri,” jelasnya.

Ujang yang telah bekerja di bidang perairan sejak 2007 mengakui bahwa tugas menjaga pintu air saat banjir bukanlah hal mudah. Selain kelelahan akibat kurang tidur, rasa khawatir juga kerap muncul, terutama ketika air menggenangi permukiman warga.

“Kesan pasti ngantuk, kadang-kadang juga ada khawatir. Takutnya kita jaga di sini, tapi rumah kebanjiran. Saya sendiri rumah di Tunggak Jati, banjir terparah itu tahun 2021, kita benar-benar kalang kabut,” tuturnya.

Selain debit air yang tinggi, petugas juga harus mewaspadai berbagai material hanyutan dari hulu, seperti bambu dan sampah, terutama di pertemuan Sungai Cibeet dan Citarum.

“Kalau bambu-bambu itu hanyut dari hulu, nanti juga akan hanyut sendiri terbawa arus,” katanya.

0 Komentar