KBEONLINE.ID – Pernah nggak sih kepikiran, kenapa satu hari itu harus 24 jam? Kenapa bukan 10, 20, atau 30 jam sekalian? Padahal hidup rasanya selalu kurang waktu. Ternyata, pembagian waktu 24 jam ini bukan angka asal-asalan, melainkan gabungan antara ilmu astronomi, kebudayaan kuno, dan perkembangan teknologi manusia.
Secara ilmiah, satu hari terjadi karena bumi berputar satu kali penuh pada porosnya. Putaran inilah yang membuat kita mengalami siang dan malam. Tapi menariknya, jika dihitung secara astronomi murni—yang disebut hari sideris—satu rotasi bumi sebenarnya hanya memakan waktu 23 jam 56 menit 4 detik, bukan tepat 24 jam.
Lalu dari mana angka 24 jam itu datang?
Jawabannya membawa kita mundur ribuan tahun ke masa Mesir Kuno. Bangsa Mesir adalah salah satu peradaban pertama yang serius mengamati langit. Mereka memperhatikan pergerakan matahari di siang hari dan bintang-bintang di malam hari untuk mengatur kehidupan, pertanian, dan ritual keagamaan.
Baca Juga:Mau Financial Freedom? Begini Tips Keuangan Ala Nabi Muhammad SAWMANTAP! Belanja Sekali Tekan: Dari Minuman Dingin sampai Mukena Ada di Vending Machine
Orang Mesir membagi siang hari menjadi 12 bagian terang, berdasarkan posisi matahari di langit dari terbit hingga terbenam. Sementara malam hari juga dibagi menjadi 12 bagian gelap, dengan mengamati kemunculan bintang-bintang tertentu yang bergantian di langit malam. Hasilnya sederhana tapi jenius: 12 jam siang + 12 jam malam = 24 jam.
Kenapa harus 12?
Karena bangsa Mesir menggunakan sistem bilangan berbasis 12 (duo desimal), bukan berbasis 10 seperti yang kita gunakan sekarang. Angka 12 dianggap sangat istimewa dan sempurna. Ia mudah dibagi (1, 2, 3, 4, 6, 12), dan sering muncul dalam alam dan budaya—seperti 12 bulan dalam setahun, atau 12 dewa utama dalam kepercayaan mereka.
Konsep ini lalu diwariskan ke bangsa Yunani dan Romawi. Dari sinilah berbagai alat pengukur waktu mulai dikembangkan: jam matahari, jam air, hingga alat mekanik sederhana. Memasuki abad pertengahan di Eropa, jam mekanik mulai dipasang di menara-menara kota, dan bunyi lonceng menjadi penanda resmi pembagian 24 jam dalam satu hari.
