KBEONLINE.ID – Banyak orang mengira financial freedom itu konsep modern—lahir dari buku motivasi, seminar mahal, atau influencer keuangan. Padahal, jauh sebelum itu semua, Rasulullah Muhammad SAW sudah mencontohkan perjalanan menuju kemandirian finansial dengan cara yang sangat realistis, bertahap, dan penuh nilai.
Menariknya, perjalanan keuangan Rasulullah tidak instan. Tidak langsung kaya, tidak dimulai dari modal besar, tapi dari kerja keras, kejujuran, dan kepercayaan.
Sejak usia muda, Nabi Muhammad SAW sudah terbiasa bekerja. Di usia sekitar 8–12 tahun, beliau menggembala kambing. Pekerjaan ini mungkin terlihat sederhana, tapi di sinilah pondasi mental dibangun: tanggung jawab, disiplin, dan kesabaran. Ini menunjukkan bahwa kebebasan finansial tidak dimulai dari hasil besar, tapi dari kemauan untuk bekerja dan tidak gengsi memulai dari bawah.
Baca Juga:MANTAP! Belanja Sekali Tekan: Dari Minuman Dingin sampai Mukena Ada di Vending MachineAroma Manis yang Menggoda: Kopi Butterscotch Jadi Favorit Baru Pecinta Kopi
Memasuki usia 12–15 tahun, Rasulullah mulai terlibat dalam dunia perdagangan sebagai asisten pamannya. Beliau masih berstatus “karyawan”, belajar melihat pasar, memahami karakter manusia, dan mengenal risiko usaha. Ini fase belajar—di mana pengalaman lebih penting daripada keuntungan besar. Banyak orang hari ini ingin langsung sukses, padahal Rasulullah pun melewati fase magang kehidupan.
Saat menginjak usia sekitar 20 tahun, kejujuran dan profesionalisme beliau mulai dikenal luas. Rasulullah dipercaya menjadi pebisnis yang menjalankan perdagangan hingga ke luar Jazirah Arab. Kepercayaan inilah aset terbesar beliau. Dalam dunia keuangan, trust lebih mahal daripada modal—dan itulah yang Rasulullah bangun sejak awal.
Kepercayaan ini kemudian membawa beliau ke fase penting: mengelola modal milik Sayyidatina Khadijah. Di usia 20–25 tahun, Rasulullah bukan sekadar pekerja, tapi pengelola amanah. Beliau menjalankan bisnis dengan penuh integritas, hingga menghasilkan keuntungan berlipat. Ini menunjukkan bahwa kebebasan finansial bisa diraih tanpa harus memiliki modal sendiri, asalkan punya reputasi dan akhlak.
Puncaknya, di usia 25–53 tahun, Rasulullah berada pada fase kemandirian ekonomi. Beliau menjadi pemilik usaha, investor, dan memiliki passive income. Namun yang paling luar biasa, harta tidak dijadikan tujuan hidup, melainkan alat untuk dakwah, membantu umat, dan menegakkan keadilan sosial.
