KBEonline.id BEKASI – Banjir yang merendam wilayah utara Kabupaten Bekasi tak hanya melumpuhkan aktivitas warga, tetapi juga memicu ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Ribuan warga terdampak mulai terserang gatal-gatal, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hingga diare akibat lingkungan yang masih dipenuhi lumpur, sampah, dan sisa puing banjir.
Kondisi ini memaksa Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi bekerja ekstra. Puluhan tenaga medis diterjunkan langsung ke titik-titik banjir untuk mencegah krisis kesehatan meluas, terutama di Kecamatan Babelan, Tarumajaya, dan Muaragembong yang menjadi wilayah terdampak terparah.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Supriadinata, menyebut banjir tahun ini sebagai salah satu yang terberat dalam beberapa tahun terakhir. Seluruh puskesmas diinstruksikan siaga penuh selama 24 jam, sementara tim medis dibagi dalam lima kelompok lintas puskesmas untuk menjangkau warga di daerah terisolasi.
Baca Juga:Viral, Bang Jago yang Palak Bus Pariwisata di Pangalengan, Satu Pelaku Pelempar Batu di Tangkap PolisiUpdate Harga Emas Antam Hari Ini: Anjlok Drastis hingga Rp183.000 Per Gram
“Banjir tahun ini cukup luar biasa. Kami fokus memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan mendirikan pos-pos kesehatan di wilayah terdampak, terutama di wilayah utara Kabupaten Bekasi,” kata Supriadinata kepada Cikarang Ekspres, Selasa (3/2)
Menurutnya, wilayah prioritas penanganan meliputi kecamatan Babelan, Tarumajaya, hingga Muaragembong. Selain mendirikan posko kesehatan, tim kesehatan juga melakukan kunjungan langsung ke lokasi-lokasi banjir untuk memberikan layanan kepada masyarakat.
“Seluruh puskesmas di Kabupaten Bekasi telah kami instruksikan untuk beroperasi penuh selama 24 jam. Kami juga membagi tim medis menjadi lima kelompok yang terdiri dari tenaga kesehatan dari empat hingga lima puskesmas untuk menjangkau daerah-daerah terdampak,” jelasnya.
Di Muaragembong, akses darat yang lumpuh membuat layanan kesehatan harus dilakukan dengan cara ekstrem. Puskesmas keliling diterjunkan menggunakan perahu karet untuk menjangkau desa-desa yang masih terendam. Petugas medis menyisir permukiman dari rumah ke rumah, memberikan layanan pengobatan secara jemput bola.
Namun di balik upaya tersebut, keterbatasan stok obat menjadi persoalan krusial. Kepala Puskesmas Muaragembong, dr Ridwan Meito Tomanyira, mengakui kebutuhan obat-obatan meningkat tajam seiring banyaknya warga yang sakit, sementara pasokan belum sepenuhnya mencukupi.
“Kami memberikan layanan medis secara jemput bola. Namun, kendala utama saat ini adalah keterbatasan stok obat-obatan. Kami sangat membutuhkan tambahan pasokan obat untuk memenuhi kebutuhan warga,” pungkasnya.
