KBEONLINE.ID KARAWANG — Warga yang tinggal di bantaran Kali Bekasi, tepatnya di Gang Mawar, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Selatan, kembali harus menghadapi kenyataan pahit seperti banjir tahunan yang datang silih berganti tanpa solusi permanen.
Meski sudah terbiasa hidup berdampingan dengan banjir, warga menegaskan mereka tidak ingin terus berada dalam kondisi darurat yang berulang.
Pembangunan tanggul Kali Bekasi yang permanen, tinggi, dan kokoh menjadi harapan utama agar bencana serupa tidak lagi terjadi setiap musim hujan.
Baca Juga:Syuting Film Lisa BLACKPINK di Tangerang Disulap Jadi Myanmar, Warganet Ramai-ramai ProtesViral Dugaan Pelecehan Seksual di Kereta Api Jakarta–Tegal, Penumpang Perempuan Ceritakan Pengalaman Mencekam
Bahkan, demi terwujudnya tanggul permanen di bantaran Kali Bekasi, sejumlah warga menyatakan siap membongkar sebagian bangunan rumah secara mandiri jika dibutuhkan untuk proyek pengamanan sungai.
Salah satu warga bernama Andi (61), mengaku rela membongkar dapur rumahnya yang selama ini digunakan sebagai tempat produksi tempe.
Baginya, kehilangan ruang usaha masih lebih ringan dibandingkan kerugian besar yang terus dialami akibat banjir.
“Silakan dibagusin, tapi jangan setengah-setengah. Kalau bisa, tanggulnya tinggi dan kuat, supaya debit air besar juga bisa ketahan,” ujar Andi dalam keterangannya dikutip Rabu (4/2/2026).
Ia menilai, selama ini penanganan banjir di Kali Bekasi cenderung bersifat sementara dan belum menyentuh akar persoalan.
Akibatnya, warga tetap menjadi pihak yang paling terdampak setiap kali hujan deras mengguyur wilayah hulu.
Menurut penuturan warga, banjir Kali Bekasi terjadi hampir setiap tahun, dengan ketinggian air rata-rata mencapai sekitar satu meter.
Baca Juga:Erosi Kali Bekasi Ancam Permukiman Warga Tambun Utara, Rumah Bersertifikat SHM Amblas ke SungaiPrabowo Gaungkan Program Gentengisasi Nasional, Targetkan Atap Rumah Lebih Sehat dan Ramah Lingkungan
Dalam siklus tertentu, banjir besar bahkan bisa melumpuhkan aktivitas warga secara total.
Andi mengingat dua peristiwa banjir paling parah terjadi pada tahun 2020 dan 2025, ketika air sungai meluap hingga menenggelamkan lantai pertama rumah warga dan memaksa mereka mengungsi.
Akibat banjir besar tahun lalu, ia mengaku harus mengeluarkan biaya hingga Rp100 juta untuk memperbaiki rumah yang rusak diterjang arus Kali Bekasi.
“Sekali banjir besar, bukan cuma perabot rusak, tapi bangunan juga. Biayanya tidak kecil,” ujarnya.
Warga bantaran Kali Bekasi berharap pemerintah menghadirkan solusi jangka panjang, bukan sekadar penanganan darurat atau tambal sulam.
