Menjaga Rasa Tradisi di Sate Maranggi Haji Yetty Purwakarta

Sate Maranggi Hj. Yetty
Dari kejauhan sudah kelihatan ramainya. Bukan karena kebetulan, tapi karena rasa yang bikin orang datang dan duduk lama.
0 Komentar

KBEonline.id – Ada kalanya sebuah tempat makan tidak perlu banyak janji, cukup satu hal: datang dan buktikan sendiri. Sate Maranggi Haji Yetty di Purwakarta adalah salah satunya. Dari luar mungkin terlihat sederhana, tetapi begitu aroma daging terbakar bercampur rempah mulai tercium, rasa penasaran itu muncul dengan sendirinya.

Berada di Jl. Raya Cikopo, Cibungur, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, warung ini seolah menjadi pemberhentian wajib bagi siapa pun yang melintas. Bukan tanpa alasan. Sate maranggi di sini tidak bergantung pada saus atau pelengkap berlebihan. Justru kekuatannya ada pada bumbu rendaman yang meresap sejak awal, membuat setiap tusuk sate sudah kaya rasa bahkan sebelum disentuh sambal.

Saat disajikan, dagingnya tampak matang sempurna, aromanya tajam namun hangat. Begitu digigit, teksturnya empuk, juicy, dan penuh karakter. Di titik ini, kebanyakan orang mulai sadar: ini bukan sate yang bisa dinikmati sambil lalu. Ada kenikmatan yang membuat orang berhenti bicara sejenak dan fokus menikmati rasanya.

Baca Juga:Situ Buleud Food Market Purwakarta: Tempat Kuliner dengan Beragam Pilihan Makanan dalam Satu LokasiFish It vs Fisch Dua Dunia Memancing di Roblox yang Berbeda Arah

Seporsi sate maranggi biasanya datang bersama nasi timbel hangat, irisan bawang merah, tomat segar, dan sambal khas yang sederhana tapi pas. Tidak ada yang berlebihan, karena memang tidak perlu. Semua disusun agar rasa sate tetap menjadi pusat perhatian.

Menariknya, banyak pengunjung yang awalnya hanya “mampir sebentar”, justru berakhir duduk lebih lama—bahkan memesan tambahan. Dan di situlah daya tarik Sate Maranggi Haji Yetty bekerja: ia tidak memaksa, tapi membuat orang ingin kembali.

Jika suatu hari Anda berada di Purwakarta, atau sekadar melintas di jalur Cikopo, mungkin ada baiknya memberi waktu sejenak untuk berhenti. Bukan hanya untuk makan, tetapi untuk merasakan bagaimana sebuah kuliner lokal bisa bertahan dan dicintai karena konsistensinya. Sate Maranggi Haji Yetty tidak meminta untuk dipercaya—ia hanya meminta satu hal: dicoba langsung.

0 Komentar