Kenapa Banyak Orang Indonesia Tetap Miskin? Ini Bukan Soal Malas, Tapi Sistem yang Menjerat

Kemiskinan Indonesia
Kemiskinan Indonesia
0 Komentar

KBEONLINE.ID – Kemiskinan di Indonesia kerap disederhanakan sebagai akibat kemalasan individu. Padahal, realitas di lapangan menunjukkan persoalan ini jauh lebih kompleks. Banyak masyarakat miskin justru bekerja keras setiap hari, namun tetap sulit keluar dari tekanan ekonomi. Akar masalahnya bukan semata pada individu, melainkan pada kemiskinan struktural yang bersifat sistemik.

Ketimpangan Akses Sejak Awal Kehidupan

Banyak warga Indonesia sudah menghadapi ketidakadilan sejak lahir. Akses pendidikan, layanan kesehatan, internet, hingga lapangan kerja antara desa dan kota masih timpang. Anak-anak di wilayah terpencil sering kali tumbuh dengan fasilitas minim, guru terbatas, dan sarana belajar yang jauh dari memadai. Kondisi ini membuat mereka “kalah start” dibandingkan anak-anak di kota besar yang sejak awal sudah dikelilingi sumber daya.

Hidup di Mode Bertahan, Bukan Bertumbuh

Sebagian besar masyarakat berpenghasilan rendah terjebak dalam pola hidup bertahan. Penghasilan dari pekerjaan seperti buruh, pekerja harian, atau ojek online habis untuk kebutuhan dasar: makan, sewa rumah, listrik, dan transportasi. Tidak ada ruang untuk menabung, apalagi berinvestasi. Fokus utama mereka bukan merencanakan masa depan, tetapi memastikan bisa hidup hari ini.

Baca Juga:‎Curi Motor CRF Rp30 Juta dan Hampir Diamuk Masaa, Dua Curanmor Bersenpi Diringkus di Palumbonsari77 Ribu Warga Kehilangan BPJS PBI, Dinsos Kabupaten Bekasi Buka Suara

Literasi Keuangan yang Masih Rendah

Masalah lain yang memperparah kemiskinan adalah minimnya pemahaman keuangan. Banyak orang terjebak cicilan berbunga tinggi dan utang konsumtif. Gaji bulanan habis untuk membayar kredit barang yang sebenarnya tidak mendesak. Tanpa literasi keuangan yang memadai, keputusan ekonomi yang diambil justru memperpanjang lingkaran kemiskinan.

Tekanan Sosial dan Budaya Konsumtif

Di era media sosial, tekanan untuk terlihat “cukup” atau “sukses” semakin besar. Banyak orang dengan ekonomi pas-pasan memaksakan gaya hidup demi pengakuan sosial. Tak jarang, tabungan dikorbankan demi gadget terbaru, pakaian bermerek, atau gaya hidup yang sebenarnya di luar kemampuan. Ketakutan dianggap tertinggal membuat beban ekonomi makin berat.

Kelas Menengah yang Rentan Jatuh

Bahkan mereka yang disebut kelas menengah sebenarnya berada di posisi rapuh. Satu kejadian tak terduga—anggota keluarga sakit, kehilangan pekerjaan, atau kendaraan rusak—bisa langsung menyeret mereka ke jurang kemiskinan. Tanpa perlindungan sosial yang kuat, garis antara “cukup” dan “miskin” sangat tipis.

0 Komentar