‎Demi Sekolah Wali Murid Jalan Kaki 2,8 Km Setiap Hari Usai SDN 03 Ciledug Ditutup Tol Japek II

SDN 03 Ciledug Ditutup efek tol Japek II pindah sementara ke SMPN 5 Setu
SDN 03 Ciledug Ditutup efek tol Japek II pindah sementara ke SMPN 5 Setu
0 Komentar

KBEONLINE.ID KABUPATEN BEKASI – Deru alat berat proyek Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Selatan menjadi simbol kemajuan pembangunan. Namun bagi ratusan wali murid SDN 03 Ciledug, suara itu justru menandai awal perjuangan baru yang melelahkan setiap hari.

‎Sejak gedung sekolah mereka ditutup total akibat dampak pembangunan jalan tol, aktivitas belajar mengajar dipindahkan sementara ke gedung SMPN 5 Ciledug. Perpindahan ini menyisakan beban berat, terutama bagi mereka yang tak memiliki kendaraan pribadi.

‎​Setiap Senin hingga Sabtu sejak pukul 11.15 WIB, Yuli sudah bersiap di rumahnya yang terletak di dekat Alun-alun Eduforest Setu, Desa Tamansari. Dengan payung di tangan dan langkah kaki yang dipaksakan cepat, ia memulai perjalanan sejauh 2,8 kilometer demi mengantar buah hatinya yang duduk di kelas 1 SD.

Baca Juga:‎Tiga Tahun Usulan Tak Kunjung Terealisasi, Puskesmas Sukadami Belum Miliki Layanan PONEDRamai Disebut Tak Ada, PPG Guru Tertentu 2026 Ternyata Masih Dibuka, Ini Skema dan Datanya

‎​”Saya jalan kaki dari rumah jam sebelas lewat, sampai sekolah jam dua belasan. Supaya cepat, saya lewat makam untuk memotong jalan,” ucap Yuli di Setu.

‎​Bagi Yuli, pilihan untuk pulang setelah mengantar adalah kemewahan yang tak mampu ia beli. Jarak yang jauh dan waktu tempuh hampir 45 menit membuat ia memilih untuk tetap tinggal di sekolah menunggu anaknya pulang hingga bel pulang berbunyi.

‎​”Kalau pulang lagi nanti bolak-balik capek. Sekali jalan saja sudah 30 menit lebih. Jadi ya saya nunggu di sekolah sampai anak pulang jam setengah tiga sore,” tambahnya.

‎​Kondisi cuaca menjadi musuh utama bagi Yuli. Tanpa motor atau uang lebih untuk memesan ojek, hujan berarti absen bagi anaknya. Menurutnya, bagi sebagian wali murid yang memiliki kemampuan finansial lebih, ojek menjadi solusi meski harus merogoh kocek dalam. Harga sekali jalan mencapai Rp 15.000, atau jika berlangganan bulanan bisa mencapai Rp 350.000. Angka yang cukup besar baginya.

‎”Kalau hujan, anak saya nggak masuk sekolah, terpaksa izin ke gurunya. Karena nggak ada kendaraan, cuma punya payung satu-satunya,” terang Yuli.

‎Sementara itu, Ika (34) wali murid kelas 1 lainnya menceritakan betapa sesaknya ruang belajar anak-anak mereka. Di SMPN 5, tiga ruang kelas harus disekat-sekat untuk menampung murid SD yang membeludak.​ Kondisi di sekolah tumpangan pun jauh dari kata ideal

0 Komentar