KBEONLINE.ID – Permainan futsal di kawasan Asia Tenggara sering kali identik dengan intensitas tinggi. Pemain terlihat terus bergerak, menekan, dan berlari hampir tanpa henti sepanjang pertandingan. Namun di balik energi tersebut, muncul satu pertanyaan menarik: apakah banyaknya lari ini murni karena keunggulan fisik, atau justru karena aspek permainan yang belum efisien?
Fenomena ini menjadi perbincangan di kalangan pelatih dan analis futsal. Dalam banyak pertandingan level Asia Tenggara, tempo permainan memang cenderung cepat. Transisi terjadi dalam hitungan detik, pressing dilakukan agresif, dan duel satu lawan satu berlangsung intens.
Namun jika dibandingkan dengan tim-tim elite seperti Brasil, Spanyol, atau Portugal, ada perbedaan mencolok. Tim-tim Eropa dan Amerika Selatan terlihat tidak selalu berlari lebih banyak, tetapi mereka bermain lebih efektif. Pergerakan mereka terukur, jarang sia-sia, dan lebih fokus pada penguasaan ruang serta pengambilan keputusan.
Baca Juga:Sering Bikin Macet dan Kumuh, 519 Lapak PKL Pasar Tumpah SGC Resmi Dipindah 13 Februari 2026Dimana Tempat Live Streaming Persib Bandung vs Ratchaburi di 16 Besar? Ayo Merapat BOBOTOH!
Intensitas Tinggi, Efisiensi Rendah?
Beberapa pengamat menilai, tingginya aktivitas lari pemain Asia Tenggara bukan semata-mata keunggulan fisik. Justru dalam banyak kasus, pemain dipaksa bekerja lebih keras karena sistem permainan yang belum sepenuhnya matang.
Pergerakan tanpa bola yang kurang terstruktur membuat pemain harus terus mencari posisi. Pola build-up yang belum rapi menyebabkan bola lebih sering diperebutkan daripada dikontrol. Akibatnya, energi terkuras lebih cepat.
Secara statistik dalam turnamen-turnamen regional, jumlah sprint dan pressing memang tinggi. Namun efektivitas peluang dan penguasaan bola sering kali masih di bawah tim-tim elite dunia. Artinya, banyak berlari belum tentu identik dengan bermain lebih baik.
Faktor Taktik dan Pemahaman Permainan
Futsal modern menuntut kecerdasan taktik selain stamina. Membaca permainan, memahami rotasi, menjaga jarak antarpemain, hingga memilih kapan harus menekan dan kapan menunggu adalah kunci efisiensi.
Di beberapa pertandingan Asia Tenggara, pressing dilakukan hampir sepanjang waktu tanpa variasi tempo. Padahal, tim-tim top dunia lebih selektif. Mereka tahu kapan harus memperlambat ritme untuk mengontrol pertandingan.
Hal ini bukan berarti pemain Asia Tenggara kurang fisik. Justru sering kali mereka bekerja lebih keras karena harus menutup celah yang muncul akibat kurang disiplin posisi atau pengambilan keputusan yang terburu-buru.
