Belum Tahu Sejarah Stadion Utama Gelora Bung Karno? Fakta Aslinya Bikin Kamu Melongo!

Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK)
Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK)
0 Komentar

KBEONLINE.ID – Selama ini banyak orang hanya mengenal Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) sebagai stadion megah tempat laga besar digelar. Tapi siapa sangka, di balik berdirinya stadion kebanggaan Indonesia ini tersimpan kisah politik global, penolakan negara adidaya, hingga keberanian seorang presiden yang menantang dunia.

GBK ternyata bukan sekadar proyek olahraga. Stadion ini lahir dari visi besar Soekarno yang ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia, bangsa yang baru merdeka, mampu berdiri sejajar dengan kekuatan besar di tengah panasnya era Perang Dingin.

Berani Ajukan Asian Games di Tengah Krisis

Pada akhir 1950-an, kondisi ekonomi Indonesia belum stabil. Situasi politik dalam negeri juga diwarnai berbagai gejolak. Namun Soekarno justru membuat langkah berani: mencalonkan Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games ke-4 tahun 1962.

Baca Juga:Kupas Tuntas NPD! Kenali 5 Tipe Narsisme yang Sering Tak Disadari di Sekitar KitaBelajar Bahasa Jadi Seperti Main Game? Duolingo Jawabannya!

Keputusan itu sempat dianggap nekat. Bagaimana mungkin negara yang sedang berbenah sanggup membangun kompleks olahraga raksasa dalam waktu singkat? Tapi justru di situlah tekad itu diuji.

Ditolak Amerika, Disambut Uni Soviet

Awalnya Indonesia meminta bantuan pendanaan kepada Amerika Serikat melalui ICA. Namun permintaan tersebut ditolak. Stadion dianggap bukan prioritas ekonomi.

Penolakan itu justru membuka jalan lain. Pada 1958, Uni Soviet memberikan pinjaman lunak sebesar 12,5 juta dolar AS. Tak hanya dana, mereka juga mengirim insinyur terbaik untuk membantu desain dan konstruksi stadion.

Kerja sama ini bukan sekadar teknis, tetapi juga bagian dari peta diplomasi global di tengah rivalitas blok Barat dan Timur.

Atap “Temu Gelang” yang Jadi Simbol Kesetaraan

Salah satu bagian paling ikonik GBK adalah atap melingkar penuh atau “temu gelang”. Pada masanya, teknologi ini termasuk langka dan hanya sedikit stadion dunia yang memilikinya.

Yang menarik, Soekarno bersikeras agar seluruh tribun tertutup atap. Ia menolak usulan agar atap hanya menutupi sebagian kursi demi menghemat biaya. Baginya, stadion ini harus mencerminkan kesetaraan: rakyat dan pejabat duduk dalam kondisi yang sama, tanpa perlakuan berbeda.

Kompleks olahraga ini berdiri di atas lahan sekitar 279 hektar. Pada awal 1960-an, skala tersebut menjadikannya salah satu yang terbesar dan termegah di Asia.

0 Komentar