KBEONLINE.ID KARAWANG – Adu komentar antara netizen Asia Tenggara (SEAblings) dan netizen Korea Selatan (K-Netz) kembali memanas di media sosial.
Perdebatan yang awalnya dipicu isu sepele berkembang menjadi gelombang saling serang, dengan hinaan bernada rasial kembali menyeruak ke ruang publik.
Ironisnya, sasaran penghinaan justru datang dari negara yang selama ini menikmati keuntungan besar dari pasar Asia Tenggara, khususnya Indonesia.
Baca Juga:Inspirasi Ucapan Menyambut Ramadan 1447 H, Cocok Dibagikan ke Keluarga dan Rekan KerjaPemerintah Tekan Biaya Mudik Lebaran 2026 Lewat Program Mudik Gratis dan Diskon Transportasi
Selama bertahun-tahun, Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar terbesar K-pop, baik dari penjualan album, tiket konser, hingga konsumsi konten digital.
Jurnalis senior A. Ainur Rohman menyoroti ketimpangan tersebut melalui unggahan di akun X pribadinya.
Ia menyebut posisi Indonesia dalam industri hiburan Korea sangat vital, namun kerap tidak dibarengi dengan respek yang setara.
“Ironis banget. Korea Selatan mengekspor budayanya secara masif ke Indonesia. Pada 2025 bahkan jadi top 3 konsumen terbesar K-pop di dunia,” tulis Ainur dikutip dari X pribadinya Jum’at, (13/2/2026).
Menurutnya, fakta tersebut seharusnya menjadi cermin bahwa penggemar Indonesia bukan sekadar penonton pasif, melainkan bagian penting dari mesin ekonomi industri hiburan Korea.
Namun, realitanya di media sosial justru menunjukkan hal sebaliknya.
Dalam konflik terbaru antara SEAblings dan K-Netz, kembali muncul narasi rasis yang menyamakan fisik orang Asia Tenggara dengan hewan atau memandang mereka sebagai warga kelas dua.
Unggahan bernada merendahkan itu menyebar luas dan memicu kemarahan penggemar di berbagai platform.
Baca Juga:Pendaftaran Mudik Gratis BUMN 2026 Resmi Dibuka, Targetkan 100 Ribu Pemudik LebaranMudik Gratis Kereta Api Jakarta–Jawa Tengah 2026 Resmi Dibuka, Cek Rute, Jadwal, dan Syarat Pendaftaran
Ainur menyayangkan kondisi tersebut. Ia menilai ada paradoks besar dalam fenomena Hallyu yang selama ini dibanggakan Korea Selatan.
“Namun sebagian masyarakatnya masih melihat konsumen Indonesia tak lebih dari monyet,” tegasnya, merujuk pada ujaran kebencian yang kerap muncul setiap kali terjadi gesekan di media sosial.
