KBEONLINE.ID – Di balik status “lulus CPNS” yang terlihat membanggakan, ada proses panjang yang jarang diceritakan. Seorang peserta seleksi membagikan kisahnya: gagal empat kali berturut-turut, hingga akhirnya lolos di percobaan kelima. Bukan keberuntungan semata, melainkan hasil evaluasi besar-besaran yang mengubah cara berpikir, cara belajar, hingga cara memandang kegagalan.
Fase Pertama: Merasa Sudah Cukup Siap
Pada percobaan pertama hingga ketiga, ia merasa sudah belajar maksimal. Materi dihafal, buku dibaca, soal-soal dikerjakan. Namun hasilnya tetap belum memenuhi passing grade.
Di titik ini, ia mulai sadar bahwa belajar keras tidak selalu berarti belajar efektif.
Baca Juga:Usai Jenguk Korban, Bupati Aep Minta Kasus Penganiayaan Balita di Hotel Karawang Diusut TuntasUbi Jadi Sahabat Lambung, Ini Kabar Baik untuk Penderita GERD
Ia terlalu fokus menghafal konsep, tetapi kurang membiasakan diri dengan pola soal berbasis CAT (Computer Assisted Test). Akibatnya, saat ujian berlangsung, ia kewalahan mengatur waktu. Soal belum selesai, waktu sudah habis.
Dari sini ia menyimpulkan:
CPNS bukan hanya soal pengetahuan, tapi soal strategi dan manajemen waktu.
Fase Kedua: Salah Strategi Belajar
Kesalahan berikutnya adalah terlalu ambisius di satu bagian tes.
Ia mengaku terobsesi menaklukkan TIU, terutama matematika dan logika numerik. Waktu belajar habis untuk mengejar skor setinggi mungkin di satu komponen. Sementara itu, TKP—yang memiliki bobot besar dan standar kelulusan tinggi—justru kurang diperhatikan.
Padahal dalam sistem seleksi, keseimbangan nilai sangat menentukan. Tidak cukup unggul di satu bagian jika bagian lain tertinggal.
Di percobaan kelima, ia mengubah strategi:
Memetakan kelemahan pribadi.
Mengalokasikan waktu belajar secara proporsional.
Fokus pada peningkatan skor minimum di semua komponen, bukan hanya mengejar skor sempurna di satu bidang.
Pendekatan ini membuat hasilnya lebih stabil.
Fase Ketiga: Konsistensi, Bukan Sekadar Semangat
Ia juga menyadari bahwa motivasi sesaat tidak cukup. Pada kegagalan sebelumnya, semangat belajar tinggi hanya di awal. Setelah beberapa minggu, ritme mulai turun.
Baca Juga:Banyak Yang Belum Tau, Ternyata WiFi Berasal dari Negara Tetangga Indonesia!FPP Karawang Apresiasi Bupati Aep Syaepuloh Terbitkan Edaran Penutupan THM Jelang Ramadhan
Akhirnya ia mencoba mengikuti bimbingan belajar dengan biaya terjangkau. Bukan semata karena materi, tetapi karena sistem dan kedisiplinannya.
Dengan jadwal rutin, target mingguan, serta evaluasi berkala, ia menjadi lebih konsisten. Ia tidak lagi belajar berdasarkan mood, melainkan berdasarkan sistem.
