Pelajaran penting yang ia petik:
Disiplin mengalahkan motivasi.
Fase Keempat: Mental dan Spiritualitas
Di percobaan sebelumnya, ia mengandalkan usaha sepenuhnya. Belajar keras, try out berkali-kali, strategi diperbaiki. Namun ia merasa terlalu percaya diri.
Pada percobaan kelima, ia mulai memperbaiki sisi mental dan spiritual. Ia menyeimbangkan antara ikhtiar dan doa.
Ia belajar menerima kemungkinan gagal tanpa kehilangan keyakinan. Tekanan berkurang. Saat ujian, ia lebih tenang dan fokus.
Menurutnya, ketenangan justru menjadi pembeda terbesar dibanding percobaan-percobaan sebelumnya.
Mengubah Cara Pandang terhadap Kegagalan
Baca Juga:Usai Jenguk Korban, Bupati Aep Minta Kasus Penganiayaan Balita di Hotel Karawang Diusut TuntasUbi Jadi Sahabat Lambung, Ini Kabar Baik untuk Penderita GERD
Empat kali gagal sempat membuatnya mempertanyakan kemampuan diri. Namun pada akhirnya ia menyadari, kegagalan bukan tanda tidak mampu—melainkan tanda strategi belum tepat.
Ia tidak lagi melihat kegagalan sebagai aib, melainkan sebagai data evaluasi.
Setiap kegagalan dianalisis:
Di mana nilai terendah?
Di bagian mana waktu terbuang?
Pola soal apa yang paling sering salah?
Dari analisis itu, ia menyusun rencana belajar yang lebih realistis.
Pesan untuk Pejuang CPNS
Kisah ini memberi pesan kuat bagi para pejuang CPNS:
Jangan hanya hafal materi, biasakan simulasi CAT.
Jangan ambisius di satu bagian, jaga keseimbangan skor.
Bangun sistem belajar yang konsisten.
Jaga mental, kelola tekanan, dan jangan lupakan doa.
Jadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan berhenti.
Lulus di percobaan kelima bukan tentang keberuntungan. Itu tentang keberanian mengakui kesalahan, memperbaiki strategi, dan bertahan lebih lama dari rasa putus asa.
Karena pada akhirnya, yang membedakan yang gagal dan yang lulus sering kali bukan kemampuan—melainkan ketahanan.
