Anak 90-an Pasti Senang Berburu Hewan Ini, Kini Keberadaannya Kian Langka!

Kepik Emas
Kepik Emas
0 Komentar

KBEONLINE.ID – Bagi anak 90-an yang tumbuh besar di kampung atau dekat area persawahan, pasti tak asing dengan serangga kecil berwarna emas mengilap yang sering hinggap di daun kangkung atau ubi jalar. Serangga itu dikenal sebagai kepik emas, atau dalam istilah ilmiah salah satunya bernama Aspidimorpha sanctaecrucis.

Dulu, kepik emas mudah ditemukan di kebun dan pekarangan rumah. Namun kini, keberadaannya semakin sulit dijumpai, bahkan di beberapa daerah disebut-sebut hampir punah.

Serangga Kecil dengan Kilau Emas Menawan

Kepik emas merupakan kumbang daun dari famili Chrysomelidae. Selain Aspidimorpha sanctaecrucis yang banyak ditemukan di Asia Tenggara termasuk Indonesia, ada juga spesies lain bernama Charidotella sexpunctata yang umum dijumpai di benua Amerika.

Baca Juga:‎Indonesia Penghasil Kelapa Terbesar di Dunia, Tapi Kelapa Thailand Malah Lebih Mahal? Lho Kok ?Cabai Pedas Tapi Kenapa Banyak Orang Indonesia Suka? Begini Penjelasan Lengkap!

Keunikan utama kepik emas terletak pada warna tubuhnya yang berkilau seperti logam. Menariknya, warna tersebut bisa berubah tergantung musim, usia, dan kondisi lingkungan. Dari emas mengilap, warnanya dapat berubah menjadi kecokelatan atau jingga.

Habitat favorit serangga ini adalah tanaman dari keluarga Convolvulaceae seperti ubi jalar, kangkung, dan bunga morning glory. Di situlah mereka mencari makan sekaligus berkembang biak.

Dari Larva “Menjijikkan” Jadi Kumbang Cantik

Sebelum tampil cantik dalam balutan warna emas, kepik emas melewati fase larva yang bentuknya cukup unik, bahkan terkesan menjijikkan. Larvanya memiliki mekanisme pertahanan diri yang tak biasa.

Mereka membuat “perisai” dari kotorannya sendiri (frass) yang digantung dan diayunkan menggunakan organ khusus bernama anal fork. Perisai ini berfungsi untuk melindungi diri dari predator seperti burung dan serangga parasit.

Kepik emas bertelur dalam kapsul tipis seperti kertas yang disebut ootheca di bagian bawah daun. Masa hidupnya relatif singkat, sekitar dua bulan lebih—jantan rata-rata hidup 64 hari, sementara betina bisa mencapai 84 hari.

Menariknya lagi, kepik emas memiliki bakteri endosimbion dalam saluran pencernaannya. Bakteri ini membantu memecah selulosa dan pektin pada daun, sehingga serangga kecil ini mampu mencerna makanan dengan efisien.

Dianggap Hama, Tapi Punya Peran Penting

Bagi petani, kepik emas sering dianggap sebagai hama. Larva dan kumbang dewasa memakan daun ubi jalar hingga meninggalkan lubang-lubang besar. Jika populasinya meledak, kerusakan tanaman bisa cukup signifikan.

0 Komentar