Realita Gaji Rp5 Juta di Jakarta: Habis untuk Kosan dan Makan, Sisanya Tinggal Tekanan

Kawasan SCBD Jakarta Selatan
Kawasan SCBD Jakarta Selatan
0 Komentar

KBEONLINE.ID – Jakarta selalu terlihat menjanjikan bagi para perantau. Gedung-gedung tinggi, peluang kerja, dan cerita sukses sering membuat banyak anak muda yakin bahwa hidup akan berubah setelah menerima gaji pertama. Namun realitasnya tak selalu seindah bayangan.

Kisah seorang perantau dengan nama samaran Dede menggambarkan kerasnya bertahan hidup dengan gaji Rp5 juta di ibu kota.

Alih-alih merasa mapan, Dede justru sadar bahwa angka tersebut cepat sekali habis hanya untuk kebutuhan dasar.

Baca Juga:Real Madrid Putus 11 Laga Tak Terkalahkan Real Sociedad, El Real Gusur FC Barcelona dari PuncakBiasa Dimakan Sehari-hari, Ternyata Buah-Buahan Ini Punya Dampak Besar bagi Kesehatan Tubuh

Ekspektasi Tinggi, Realita Menghantam

Datang dari kampung dengan penghasilan sebelumnya hanya Rp1 juta per bulan, Dede mengira Rp5 juta adalah lonjakan besar. Di daerah asalnya, uang sebanyak itu terasa sangat cukup, bahkan bisa menabung.

Namun Jakarta punya standar biaya hidup yang berbeda.

Begitu mencari tempat tinggal, Dede terkejut. Kosan sederhana saja sudah Rp1,2 juta per bulan. Jika ditambah listrik dan WiFi, totalnya bisa mencapai Rp1,5 juta. Artinya hampir sepertiga gaji langsung habis hanya untuk tempat berteduh.

Belum selesai di situ, kebutuhan makan juga jadi kejutan berikutnya. Harga nasi uduk yang di kampung mungkin Rp5 ribu, di Jakarta bisa Rp10 ribu dengan porsi lebih kecil. Gorengan, kopi, hingga air minum kemasan terasa dua kali lebih mahal. Pengeluaran kecil yang terlihat sepele ternyata jika dikalkulasikan bisa menggerus jutaan rupiah dalam sebulan.

Culture shock itu datang cepat: Jakarta mahal, dan Rp5 juta tidak sebesar yang dibayangkan.

Tekanan Gaya Hidup: Ingin Terlihat Setara

Masalah tidak berhenti pada biaya hidup. Tekanan sosial di lingkungan kerja juga menjadi ujian mental.

Dede merasa minder melihat rekan-rekan kantornya menggunakan ponsel mahal dan tampil gaya. Baru menerima gaji pertama, ia tergoda membeli ponsel bekas seharga Rp7 juta demi terlihat setara. Keputusan impulsif itu menjadi awal masalah baru.

Karena uang tidak cukup, Dede terjerat pinjaman online (pinjol). Awalnya hanya untuk menutup kekurangan membeli ponsel, lama-lama untuk membayar cicilan dan kebutuhan lain. Lingkaran utang pun terbentuk.

Baca Juga:Empat Kali Gagal CPNS, Lolos di Percobaan Kelima: Evaluasi Mendalam yang Mengubah SegalanyaUsai Jenguk Korban, Bupati Aep Minta Kasus Penganiayaan Balita di Hotel Karawang Diusut Tuntas

Fenomena ini dikenal sebagai lifestyle creep—kenaikan gaya hidup yang tidak sejalan dengan kemampuan finansial. Gaji naik, tapi pengeluaran ikut melonjak tanpa perhitungan matang.

0 Komentar