Tekanan Kerja dan Mentalitas Instan
Selain tekanan finansial, Dede juga menghadapi lingkungan kerja yang tidak selalu nyaman. Beban kerja tinggi, rekan kerja yang kurang suportif, serta kemacetan Jakarta setiap hari menguras energi.
Di tengah tekanan itu, muncul keinginan untuk resign dan mencoba jalan pintas menjadi trader setelah melihat temannya bekerja dari rumah dengan santai. Ia membayangkan keuntungan cepat bisa melunasi utang pinjol.
Namun tanpa pemahaman tentang analisis teknikal, fundamental, dan psikologi trading, langkah itu justru berisiko memperparah kondisi. Trading bukan mesin uang instan, apalagi jika menggunakan dana pinjaman.
Realitas Angka: Ke Mana Perginya Rp5 Juta?
Jika dihitung kasar:
Kosan + listrik/WiFi: Rp1,5 juta
Makan Rp20–30 ribu per hari: ±Rp900 ribu
Transportasi: Rp500–700 ribu
Kebutuhan lain (pulsa, laundry, sabun, dll): Rp500 ribu
Nongkrong atau kebutuhan sosial: Rp500 ribu
Baca Juga:Real Madrid Putus 11 Laga Tak Terkalahkan Real Sociedad, El Real Gusur FC Barcelona dari PuncakBiasa Dimakan Sehari-hari, Ternyata Buah-Buahan Ini Punya Dampak Besar bagi Kesehatan Tubuh
Sisa uang menjadi sangat tipis, bahkan bisa minus jika tidak disiplin.
Artinya, Rp5 juta sebenarnya cukup untuk bertahan—tetapi sangat bergantung pada pengelolaan. Tanpa kontrol gaya hidup, angka itu mudah habis sebelum akhir bulan.
Pesan Moral: Jakarta Butuh Mental Kuat
Kisah Dede memberi gambaran bahwa hidup di Jakarta bukan hanya soal besar kecilnya gaji. Yang lebih penting adalah:
Disiplin mengatur keuangan.
Tidak terjebak gengsi sosial.
Tidak menggunakan utang untuk gaya hidup.
Tidak tergoda jalan pintas demi uang cepat.
Gaji Rp5 juta bukan berarti mustahil untuk hidup layak. Namun ibu kota menuntut mental tangguh dan perencanaan yang matang. Tanpa itu, uang sebesar apa pun bisa terasa kurang.
Karena di Jakarta, bukan hanya biaya hidup yang tinggi—tekanan mental dan godaan gaya hidup juga ikut menguji setiap perantau yang datang dengan mimpi besar.
