KBEOnline.id – Clair Obscur: Expedition 33 lagi ngebut, kayak kereta tanpa rem menuju 2025. RPG turn based dari Sandfall Interactive ini nggak cuma dipuji-puji, tapi juga panen penghargaan dan langsung diperhatiin sama para kreator senior Jepang.
Salah satu yang nggak tahan buat angkat topi: Katsura Hashino—otak di balik Persona 5 dan Metaphor: ReFantazio. Hashino bilang Expedition 33 benar-benar ngerti jiwa JRPG. Katanya, game ini dibuat penuh dedikasi dan perhatian ke detail, yang langsung kerasa dari menit pertama main.
Bundle Steam yang Nggak Biasa
Pujian Hashino nggak sekadar omongan doang. Dia sampai ngajak bikin bundle khusus di Steam, nyatuin Metaphor: ReFantazio dan Clair Obscur: Expedition 33. Pemain yang belum punya dua-duanya bisa dapet diskon 10 persen. Lumayan banget, kan?
Baca Juga:Bukan God of War! Game Baru Sang Kreator Diisukan Meluncur 2027“Pemburu Terlemah” Muncul di Postingan Fortnite, Kolaborasi di Depan Mata?
Rasanya kayak dua jagoan dari beda negara salaman di tengah panggung. Bukan saingan, tapi sama-sama ngerayain genre yang mereka cintai.
JRPG Naik Daun Lagi
Hashino juga cerita soal masa-masa JRPG sempat dianggap basi di Barat, sekitar 2000-an sampai 2010-an. Dulu, orang bilang genre ini kaku, terlalu pegang pola lama. Sekarang malah kebalik. Gaya Jepang makin mendunia, dan bukan cuma studio Jepang yang bikin, tapi juga kreator Eropa dan Amerika yang ngeracik DNA JRPG dengan gaya mereka sendiri.
Clair Obscur contohnya. Game ini nggak sekadar niru, tapi nge-blend nuansa Eropa yang sendu sama sistem turn based yang tajam dan modern. Jadinya, game ini terasa akrab, tapi tetap fresh.
Waktu ngobrol sama Game Informer, Hashino ngakui, dia langsung ngerasain betapa serius dan detailnya tim Sandfall dari awal main. Mulai dari visual, tempo cerita, sampai sistem battle, semuanya nunjukkin visi yang jelas.
Menuju 2025, dunia RPG makin campur aduk. Kreator saling nyontek inspirasi, pemain makin terbuka, dan batas negara makin nggak penting. Kalau tren begini terus, JRPG bakal jadi bahasa desain universal. Siapa aja bisa ngomong pakai aksen masing-masing. (*)
