KBEONLINE.ID – DITENGAH gemerlap kawasan industri dan deretan gedung modern di Cikarang Pusat, terdapat sebuah jalur alternatif yang justru jauh dari kata layak. Warga mengenalnya sebagai “Terowongan Sapi”, sebuah lorong beton di Desa Pasirtanjung yang kini menjadi tumpuan mobilitas ribuan pekerja.
Setiap pagi dan sore, ratusan sepeda motor melintas di jalur tanah berbukit tersebut. Mereka memilih risiko jalan berlumpur dan minim penerangan dibandingkan terjebak kemacetan panjang di Tegal Danas.
Berdasarkan pantauan Cikarang Ekspres dilokasi, banyak pengendara yang hendak menuju kawasan industri maupun Kantor Pemerintah Kabupaten Bekasi lebih memilih melintasi terowongan ini dibandingkan harus memutar melewati persimpangan Tegal Danas. Alasannya sederhana yakni efisiensi waktu, meski jalannya tak seindah jalan pada umumnya.
Baca Juga:Tanggul Kali Cikarang Ambrol, Perumahan GCV Jayasampurna Terancam BanjirDeputy CEO PBB Minta Bobotoh Teror Sejak Menit Awal, Persib Siap Comeback atas Ranchaburi di GBLA
”Kalau lewat sini bisa pangkas waktu sampai 20 menit. Bayangkan kalau harus lewat Tegal Danas saat jam berangkat atau pulang kantor, macetnya luar biasa,” ucap salah satu pengendara motor yang melintas, Muhammad Aji (36) kepada Cikarang Ekspres.
Aji yang berdomisili di Karawang, setiap hari melintasi jalur sapi tersebut untuk menuju kawasan GIIC tempatnya bekerja. Walaupun jalannya masih tanah dan berbukit, tidak adanya kepadatan pengendara membuatnya lebih memilih jalan tersebut. Berbeda ketika musim penghujan tiba, ia tak berani melewati jalur offroad tersebut karena licin dan menjadi kubangan.
“Kalau musim panas aja lewat sini. Kalau hujan lewat Tegal Danas tapi berangkatnya agak pagian karna pasti macet parah. Pengalaman saya pernah kejebak macet sampai 30 menit gak bergerak,” tambahnya.
Meski kini didominasi oleh deru mesin sepeda motor para pekerja, terowongan ini memiliki cerita panjang. Nama “Terowongan Sapi” sendiri melekat karena fungsi historisnya sebagai akses utama para peternak lokal.
Dedi (54), seorang penggembala yang telah puluhan tahun beraktivitas di wilayah tersebut, mengenang masa sebelum beton-beton industri berdiri tegak.
”Jalan itu udah lama jadi akses warga buat ngangon jauh sebelum ada Deltamas. Saya setiap hari lewat jalan ini ngangon kambing karena masih banyak rumput-rumput liar di pinggir tol,” tutur Dedi.
